Digitalisasi BPJS Kesehatan, Mudahkan Pelayanan Jelang Persalinan

Ingin Melahirkan dekat dengan Orang Tua

2018 lalu, pengalaman melahirkan pertama kali dalam hidup. Rasa cemas dan takut membuat saya tidak berani melahirkan jauh dari orang tua. Selama menjalani kehamilan saya tinggal di Surabaya hanya dengan suami. Saya pun meminta izin suami untuk melahirkan di kota Malang, dengan pertimbangan dekat dengan orang tua dan lebih banyak saudara yang bisa membantu.

Ingin melahirkan dengan asuransi BPJS Kesehatan, kami harus mengurus surat perpindahan Faskes dari Surabaya ke Malang, karena domisili kami di KTP, KK dan faskes BPJS sudah di Surabaya. Saat itu saya sudah membayangkan betapa ribetnya harus mengurus dokumen perpindahan faskes, belum lagi antri panjang di kantor BPJS Kesehatan, sementara kondisi saya sedang hamil.

Kekhawatiran saya dulu juga dialami oleh ibu hamil di tahun ini. Terlebih kita hidup berdampingan dengan pandemi. Kondisi seperti ini akan mempersulit ibu hamil jika harus mengurus dokumen secara langsung. 

Membaca artikel di website Semen Padang Hospital, Dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan Semen Padang Hospital (SPH) dr. Primadella Fegita, Sp. OG mengungkapkan bahwa ibu hamil (bumil) lebih rentan untuk terkena COVID-19. “Seorang wanita ketika tengah hamil, mereka akan lebih rentan terkena COVID-19. Hal itu karena aktivitas sel ini di tubuh ibu akan mengalami penurunan. Inilah yang mengakibatkan imunitas menjadi lemah” ujar dokter yang akrab disapa Della tersebut.

Disisi lain di era pandemi ini membuat kita mau tidak mau untuk “serba digital”. Membatasi untuk bertemu orang lain dan menjauh dari kerumunan adalah hal yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19, apalagi bagi mereka yang sedang hamil. Tak heran jika digital menjadi solusi untuk mengakses berbagai layanan.

Data Penggunaan Layanan Digital Selama Pandemi

Dari data tersebut diketahui layanan digital di bidang kesehatan dan pendidikan mengalami peningkatan, masing-masing sebesar 41% dan 38%. 

Dalam aptika.kominfo.go.id, Semuel Abrijani Pangarepan sebagai Direktur Jenderal Aplikasi Informatika mengatakan “Ketika pasien pada umumnya harus menunggu 4 jam di rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan, aplikasi telemedis berhasil memangkas waktu tunggu menjadi 35 menit saja.”

Penggunaan layanan kesehatan yang bersifat digital tentunya akan sangat menguntungkan bagi ibu hamil terutama di era pandemi, selain mencegah penyebaran Covid-19 ternyata prosesnya juga sangat cepat. 

Kembali pada cerita kehamilan saya, saat rasa khawatir akan sulitnya mengurus perpindahan faskes secara langsung muncul, saya segera mencari informasi kesana kemari. Berselancar di dunia maya sampai bertanya pada adik yang sudah berpengalaman saya lakukan. Betapa terkejutnya saya ternyata mengurus perpindahan faskes bisa sangat mudah dan simple dengan aplikasi BPJS Kesehatan. Aplikasi tersebut bernama “Mobile JKN”. Jujur saat itu baru pertama kali saya mendengarnya dan sempat muncul keraguan aplikasi ini legit atau tidak, kok namanya gak ada kata BPJS-BPJS sama sekali. Hingga akhirnya saya tahu bahwa JKN sendiri kependekan dari Jaringan Kesehatan Nasional. Belakangan ini saya mengetahui BPJS Kesehatan memiliki layanan digital selain Mobile JKN. Ada Chika, Vika dan Pandawa. 

Continue reading “Digitalisasi BPJS Kesehatan, Mudahkan Pelayanan Jelang Persalinan”

Berkenalan dengan Digital Customer Service BPJS

Nggak tanggung-tanggung loh ini, ada tiga laskar Digital Customer Service milik BPJS yang siap mempermudah teman-teman untuk mendapatkan informasi tentang BPJS hingga membantu menyelesaikan pelayanan pelayanan administrasi BPJS. Pemanfaatan layanan Chatbot merupakan bukti keseriusan BPJS untuk mengurangi layanan tatap muka dan menekan jumlah kunjungan peserta di kantor cabang demi mengurangi resiko penyerbaran Covid-19.

Bot BPJS Chika: Chat Assistant JKN (Sumber: https://sumedang.radarbandung.id/wp-content/uploads/sites/2/2020/11/20201112_090025.jpg)

Menilik dari definisi Chatbot menurut oxford adalah sebuah program komputer yang didesain untuk mensimulasikan percakapan dengan manusia, dengan jaringan internet.

Chatbot mampu memproses pesan teks, suara, gambar dan video dan merespon sesuai dengan konteks yang dibawa oleh lawan bicara dengan dukungan teknologi Artificial Intelligence (AI). Dukungan teknologi AI ini lah yang membuat Chatbot menjadi pintar dan mampu memahami, memproses pertanyaan dan permintaan pelanggan hingga memberikan jawaban yang relevan dengan cepat.

Contoh Implementasi ChatBot pada Pemesanan Tiket Pesawat (sumber: https://oktavianidewi.files.wordpress.com/2021/05/abbd6-0gyjvxrxmdinmwltz.png)

Menyapa Chika, Chatbot Pusat Informasi BPJS

Panduan Mengakses Bot BPJS Chika melalui Beragam Channel (sumber: https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/application/modules/post/images/chikka2.jpg)

Kini pelayanan BPJS semakin dekat dengan kita dengan hadirnya Chatbot Chika. Chika adalah singkatan dari Chat Assistant JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Melalui Chika, kita dapat mengakses pelayanan untuk cek status peserta, cek tagihan, registrasi peserta, perubahan data peserta, maupun informasi letak fasilitas kesehatan atau kantor cabang BPJS Kesehatan terdekat. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan tanpa harus ke kantor BPJS.

Kita dapat menyapa Chika melalui berbagai platform chat, yaitu:

  • WhatsApp di nomor 08118750400,
  • Facebook Messenger melalui akun resi BPJS Kesehatan
  • Telegram melalui link berikut https://t.me/BPJSKes_bot.

Chatbot Pandawa Pandu Pelayanan Administrasi BPJS

Pandawa sebagai Layanan Administrasi BPJS

Pandawa hadir untuk melayani kebutuhan administrasi peserta Program JKN-KIS. Pandawa adalah singkatan dari Pelayanan Administrasi melalui Whatsapp. Pandawa bisa diakses hanya melalui platform WhatsApp. Berbeda dengan Chika, alih alih ChatBot, Pandawa adalah kanal komunikasi antara peserta dengan petugas BPJS melalui Whatsapp untuk setiap daerah sesuai dengan wilayah administrasi peserta BPJS.

Melalui Pandawa, kita bisa mendapatkan beragam pelayanan administrasi seperti mendaftar baru (baik bayi maupun dewasa), penambahan anggota keluarga, mengubah data peserta, update golongan, menonaktifkan peserta meninggal dan pengaktifan kembali kartu.

Berbeda dengan Chika yang dapat dihubungi 24 jam, layanan Pandawa beroperasi sesuai jam kerja: Senin-Jumat Pukul 08.00 – 15.00. Hal ini karena ada beberapa layanan administrasi BPJS yang masih memerlukan bantuan pegawai BPJS di kantor cabang terdekat.

Cara mengakses Pandawa adalah sebagai berikut:

  1. Peserta mengakses Layanan CHIKA
  2. Setelah CHIKA merespon, CHIKA akan menampilkan jenis pelayanan CHIKA  dan Peserta dapat memilih jenis layanan administrasi
  3. Kemudian CHIKA akan menampilkan Jenis Layanan PANDAWA dan peserta dapat memilih 1 jenis layanan.
  4. Setelah memilih 1 jenis layanan yang dibutuhkan, selanjutnya peserta  memilih domisili provinsi dan kantor cabang sesuai dengan tempat tinggal peserta
  5. Langkah terakhir, CHIKA  akan memberikan form pelaporan yang wajib di isi oleh peserta dan mengirimkan form pelaporan ke nomor Whatsapp Kantor Cabang sesuai dengan wilayah daerah peserta tinggal (No Whatsapp sesuai dengan informasi yang diberikan CHIKA).
  6. Peserta akan di hubungi oleh Petugas Admin PANDAWA Kantor Cabang untuk membantu proses administrasi sesuai kebutuhan peserta. Informasi lebih lanjut hubungi Care Center BPJS Kesehatan 1500 400.

Tim Langsung Ngobrol, Yuk Kenalan dengan Voice Bot Vika

Voice Bot BPJS bernama Vika: Voice Interactive JKN

Bagi kalian yang lebih suka ngobrol langsung dan tidak suka chatting, BPJS juga memiliki Vika yang siap sedia melayani pertanyaan kalian. Vika, dengan kepanjangan Voice Interactive JKN, adalah layanan informasi berbasis mesin penjawab. Untuk mengakses Vika bisa dengan menghubungi BPJS Kesehatan Care Center di nomor 1500-400.

Memilih Balance Bike untuk Anak

Bener ya ternyata kalo anak-anak itu punya energi luar biasa! Orang tua dan pengasuh harus mempersiapkan permainan yang melibatkan motorik halus dan kasar. Permainan yang menstimulus motorik kasar anak adalah permainan yang melibatkan aktivitas fisik, seperti berlari, bermain bola, lompat-lompat, bersepeda hingga bermain di mini playground di dalam rumah.

Sejak awal usia 2 tahun, saya sering mendapat cerita dari bu Guru bahwa Sarah sangat antusias naik sepeda roda tiga, Wah pas banget nih, emang saya dan suami ingin membelikan sepeda untuk Sarah. Nah artikel ini akan membahas secara singkat apa aja pertimbangan kami memilih balance bike untuk Sarah.

Antara Balance Bike atau Sepeda Roda Tiga

Saat saya masih kecil, saya belajar bersepeda menggunakan sepeda roda tiga. Setelah nampak lancar, roda bantuan dilepas dan belajar keseimbangan dengan sepeda roda dua. Awalnya, mengayuh sepeda roda tiga ini sangat menyenangkan dan ringan saat dikayuh karena ada roda bantuan yang memberikan rasa aman dan dapat menahan sepeda tetap tegak meskipun tidak dikayuh dan kaki tidak menjejak tanah. Setelah saya lancar menggunakan sepeda roda tiga dan kaki saya sudah bisa menapak tanah, ayah saya melepas roda bantuan, kemudian mengajarkan saya bersepeda dengan roda dua.

Saat itu, susah sekali adaptasi dan menyeimbangkan sepeda sambil mengayuh. Kepercayaan diri saya saat itu runtuh, saya merasa sudah di level mahir menggunakan sepeda roda tiga. Tetapi saat beralih ke roda dua, mengapa kemampuan saya menguap dan harus belajar sepeda dari awal seperti tidak pernah menggunakan sepeda? Nah, itulah kelemahannya jika belajar dengan metode tersebut. Step belajar yang benar seharusnya dimulai dari belajar keseimbangan. Jika sudah mahir, sepeda bisa ditambahkan pedal untuk belajar mengayuh dan rem. Pilihan saya semakin mantap menjadikan Balance Bike sebagai media belajar keseimbangan untuk Sarah.

Memilih Balance Bike yang sesuai untuk anak

Supaya anak bisa menggunakan Balance Bike dengan aman, kita harus bisa memilih Balance Bike yang ukurannya sesuai dengan anak. Apa aja tips untuk memilih Balance Bike yang sesuai?

Sadel yang Ketinggiannya Bisa Diatur

sesuaikan tinggi tempat duduk dengan inseam anak. inseam adalah: arak antara tanah hingga selangkangan. child’s inside leg lenght (lebar kaki bagian dalam anak) harus setidaknya sama/lebih panjang daripada tinggi saddle minimum. indikasinya: anak bisa duduk di sadel secara nyaman dan kaki menapak tanah.

Cara mengukur? ukur child’s inside leg with shoes on, dari tanah ke top of inseam. inseam length setidaknya setinggi minimum saddle (di merk tertentu paling rendah adalah 370 mm atau 37 cm)

https://www.sepeda.me/sepeda/kenapa-balance-bike-dan-bagaimana-memilih-serta-memakainya.html

Bobot Balance Bike

Pilih balance bike dengan bobot yang sesuai dengan berat badan anak. Idealnya berat Balance Bike adalah 1.3 kali dari berat anak. Jika berat badan anak 10 kg, maka berat Balance Bike nya maksimal 13 kg agar anak tidak keberatan saat menggunakan Balance Bike.

Pilih material penyusun Balance Bike dari aluminium, karena lebih ringan dibanding Besi. Namun sepeda yang terbuat dari aluminium cenderung mahal harganya.

Memiliki footrest (jarak antara tempat duduk dan stang) yang tidak terlalu lebar, karena jika terlalu lebar, dapat mengganggu pergerakan kaki ketika berjalan/berlari

Jenis dan Ukuran Roda

Ukuran dan jenis roda yang tepat. Semakin berumur anak, diameter roda makin besar.

Jenis roda: roda berisi angin dan roda padat (dari busa, plastik, karet). Roda angin lebih enak penggunaannya namun lebih berat daripada roda padat.

Ban yang berisi udara akan memberikan tambahan berat sekitar 1-1.5kg (tergantung jenis dan bahan rim dan roda), tetapi penambahan beban bisa membuat balance bike lebih stabil. Tetapi ada kemungkinan ban bocor, seperti sepeda normal, perlu usaha lebih untuk perawatannya.

Ban jenis solid yang terbuat dari plastik memiliki kekurangan dalam kenyamanan karena tidak memantul dan menyerap getaran, serta traksi (gaya gesek/cengkram) terhadap permukaan yang tidak begitu baik. Bahan foam mungkin yang paling menyerupai ban sepeda normal, bisa menyerap getaran dan cukup baik traksinya terhadap jalan. Ban solid yang terbuat dari karet mempunyai traksi yang baik, tidak gampang licin dan terpeleset, tetapi sepeda lebih terasa keras, karena ban solid dari karet ini tidak begutu baik dalam menahan getaran dan guncangan. Kemudahannya adalah, tidak perlu khawatir ban bocor atau kempes.

Ukuran roda menentukan seberapa besar balance bike, ukuran yang biasa ditemui pada balance bike adalah 12”, sedangkan ukuran 14” dan 16” biasa dipakai anak yang sudah lebih besar mulai dari pre-school. Ada juga yang berukuran 10”, tetapi pertumbuhan anak yang sangat cepat membuat sepeda balance bike 10” cepat menjadi kecil bagi anak. Ada juga beberapa produk yang menawarkan balance bike dengan ukuran roda 20”, lebih cocok dipakai oleh anak remaja / dewasa yang mau belajar bersepeda.

Kapan Beralih ke Sepeda Roda Dua (Pedal Bike)

Jika anak sudah mahir keseimbangannya, dengan indikasi: usia anak sudah 4-5 tahun dan kaki anak tidak menapak ke lantai dengan jenis sepeda yang lebih besar. Jika sudah begitu, kita bisa memakaikan pedal ke sepeda tersebut, biasanya balance bike untuk usia 2-3 tahun tidak memiliki extension untuk penambahan pedal. Hanya balance bike untuk usia 4-5 tahun yang memiliki extension untuk pedal.

BPJS Anti Ribet: Ikuti Langkahnya, Dapatkan Manfaatnya

Kala itu sebelum pandemi hadir di dunia ini dan muncul larangan untuk berkumpul, aku terbilang cukup sering mengadakan kegiatan berkumpul dengan teman dan sahabat-sahabatku. Sederhana alasannya, hanya untuk mengobrol dan mengupdate kabar satu sama lain sembari ditemani mengemil atau makan bersama. Aku menganggap tatap muka dan mengobrol secara langsung tidak bisa digantikan, meskipun dengan melakukan panggilan video sekalipun. Sehingga aku senang sekali ketika bertemu dan berkumpul dengan teman dan sahabat-sahabatku.

Sampai suatu hari aku dan beberapa temanku sedang berkumpul di salah satu rumah kawan kami, di sana tersedia berbagai jenis makanan yang sangat menggugah selera. Dan biasanya ada seorang temanku yang sangat senang makan, atau sekedar melakukan icip-icip tiap sajian yang tersedia. Tapi anehnya hari ini dia kelihatan tidak bersemangat dan sedikit makan. Saat kudekati dan kutanya apakah dia sedang sakit atau merasa tidak nyaman, ternyata kawanku satu ini mengaku sedang mengalami sakit pada bagian rahangnya yang menyebabkan dia merasa sangat tidak nyaman ketika makan, berbicara, atau sekedar membuka dan menutup mulutnya. Dan ternyata dalam beberapa hari lagi dia akan melangsungkan operasi cabut gigi geraham belakangnya akibat keluhan yang dia rasakan. Lalu aku bertanya, kenapa harus sampai operasi jika tindakannya hanya cabut gigi? Lalu apakah tidak akan mahal biayanya? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku, dan akhirnya dia menjelaskan prosesnya satu persatu.

Ternyata karena tumbuhnya gigi geraham paling belakang yang tidur sehingga mendorong gigi-gigi yang ada di depannya. Tapi dampak yang muncul bisa banyak, dan keluhan dia rasakan ketika itu adalah rahangnya terasa sulit ketika membuka dan menutup. Bahkan terasa ada yang mengganjal saat rahang bawah digerakkan yang akibatnya ketika membuka rahang terlalu lebar akan terasa ada posisi rahang yang bergeser dari posisinya atau ada sensasi “klek klek” saat menggerakkan rahang. Tidak sampai situ saja, pada akhirnya dia merasakan rasa nyeri di bagian pipi kanannya di area dekat telinga yang bila  ditekan dengan tangan akan terasa di posisi titik pertemuan rahang atas dan bawah. Setelah merasakan semua keluhan itu selama berhari-hari barulah dia berinisiatif untuk memeriksakannya ke dokter.

Pertama-tama dia mengunjungi dokter gigi yang ada di puskesmas dengan memanfaatkan fasilitas BPJS yang dimilikinya. Selama proses pemeriksaan itu tidak ditarik biaya sama sekali, dan disimpulkan bahwa mungkin sebabnya adalah gigi geraham paling belakangnya yang tumbuh tidur tadi. Segeralah dia dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut menuju poli bedah mulut. Sesampainya di rumah sakit dengan rujukan dari puskesmas, kesimpulan yang ia dapatkan adalah harus melakukan operasi untuk mencabut gigi geraham belakang itu supaya keluhan yang saya rasakan bisa berkurang. Dan karena posisi gigi yang tumbuhnya tidur dan gigi tersebut belum muncul ke permukaan, maka perlu dilakuka pembedahan untuk mengeluarkan gigi-gigi tersebut. Ya, gigi-gigi karena ternyata yang dicabut adalah 2 gigi geraham paling belakang yang ada di rahang bawahnya sehingga memerlukan prosedur bius total dan mengharuskan ia dioperasi.

Prosedur Operasi yang Harus Dilalui

Pada hari yang sama dia mendapatkan hasil dari rumah sakit untuk melakukan operasi, tahap pertama yang dilakukan adalah membutuhkan foto rontgen bagian giginya. Dan pada hari yang sama ia diberi surat untuk ke bagian radiologi untuk melakukan foto bagian rahang. Setelah itu keesokan harinya diminta kembali ke poli untuk mengkonsultasikan hasil fotonya.

Keesokan harinya saat konsultasi, dokter menjelaskan bagaimana prosedur ketika operasi nantinya dan resiko-resiko yang muncul dan menentukan jadwal operasi. Setelah konsultasi berakhir lalu diberi surat kontrol untuk kembali ke poli 2 minggu kemudian dan melakukan persiapan operasi seperti pemeriksaan darah, menandatangani surat untuk administrasi operasi dan pembayaran oleh BPJS. Kemudian datanglah hari penanganan operasi, dengan menginap 3 hari 2 malam dan prosesdur operasi menggunakan bius total akhirnya dia bisa melaksanakan operasi cabut gigi geraham itu dengan sukses. Dan saat ini keluhan sakit itu sudah menghilang. Dan dari keseluruhan proses itu, kawanku sama sekali tidak mengeluarkan biaya sepeser pun karena menggunakan fasilitas BPJS yang dia miliki. Lalu aku bertanya sekali lagi kepadanya, apakah dia tidak merasa ribet dengan semua proses itu yang harus bolak-balik ke rumah sakit karena BPJS mengharuskan satu hari hanya boleh mendatangi 1 poli. Dan dia menawab, jika dibilang ribet mungkin terlihat seperti itu apalagi pengguna BPJS pasti diharuskan mengantri berjam-jam. Tetapi jika kita mengikuti setiap alur dan prosedurnya dengan baik, itu akan setimpal dengan fasilitas yang didapatkan. Karena semua biaya rumah sakit ditanggung dan juga setiap bulan kita hanya membayar dengan biaya yang terjangkau terutama bagi kalangan menengah ke bawah yang membutuhkan asuransi tetapi dengan harga yang merakyat, BPJS merupakan sebuah solusi asuransi kesehatan yang merakyat.

Setelah itu aku menelusuri lebih dalam mengenai BPJS, dan aku menemukan bahwa saat ini BPJS membuat aplikasi Mobile JKN. Yang dimana aplikasi itu dibuat tentu untuk memudahkan pengguna BPJS dalam memanfaatkan fasilitas BPJS yang ada. Dan keribetan proses yang harus dilalui untuk mendapatkan fasilitas BPJS bisa dipermudah dengan adanya Mobile JKN ini.  Yang dimana dalam aplikasi tersebut banyak sekali fitur-fitur yang memudahkan pengguna BPJS mulai dari melakukan pembayaran hingga melakukan pendaftaran secara online, dan banyak fitur lainnya yang memudahkan kita.

Seputar Mobile JKN

Halaman Depan Aplikasi Mobile JKN.
Sumber: Screenshot aplikasi Mobile JKN

Dengan adanya aplikasi tersebut bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin sebagai pengguna BPJS, karena manfaat yang dirasakan bisa banyak sekali. Diantaranya adalah:

  1. Fitur ketersediaan tempat tidur
Halaman Fitur Ketersediaan Tempat Tidur.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN
Halaman Ketersediaan Tempat Tidur di Rumah Sakit Terkait.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN

Dari fitur ini bisa memunculkan data rumah sakit terdekat dari lokasi kita dan dari masing-masing rumah sakit itu bisa diketahui berapa jumlah ketersediaan tempat tidur yang ada mulai dari kelas 1 sampai dengan VVIP. Fitur ini bisa berguna bila kita hendak memetakan rumah sakit mana yang terdekat dari lokasi kita dan hendak melakukan opname atau rawat inap.

  • Fitur pendaftaran pelayanan :
Halaman Fitur Pendaftaran Pelayanan.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN

Fitur ini bisa memudahkan kita ketika hendak melakukan pendaftaran untuk faskes tingkat 1. Karena secara prosedur BPJS diharuskan untuk ke faskes tingkat 1 seperti puskesmas setingkat, kemudian bisa membutuhkan tindakan lanjut barulah dirujuk ke rumah sakit. Dengan mendaftar secara online, maka kita bisa mendapatkan nomor antrian lebih awal dibandingkan harus datang ke tempat dan mengambil nomor antrian secara on the spot. Kemudian kita bisa datang sesuai dengan nomor antrian yang didapat. Hal ini tentu saja sangat praktis dan memudahkan kita.

Dan bagi warga Surabaya, pemkot juga membuat aplikasi E-health untuk mendukung pengguna BPJS juga dimana fungsinya sama dengan fitur pendaftaran pelayanan dalam aplikasi mobile JKN, yaitu untuk mengambil nomor antrian secara online.

  • Fitur pembayaran (Pembayaran Auto Debit dan Pembayaran):
Halaman Fitur autodebet.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN

Halaman fitur pembayaran.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN

Dalam aplikasi mobile JKN juga disediakan fitur pembayaran, sehingga ketika membayar tagihan BPJS tiap bulannya bisa langsung melalui aplikasi tanpa ribet-ribet melalui aplikasi lain. Dan yang terbaru ada fitur auto debit, dimana akan semakin praktis bagi pengguna aplikasi karena setiap bulannya akan otomatis melakukan penagihan auotdebet di bank yang kita miliki. Sehingga secara otomatis akan tertagih untuk pembayaran BPJS.

Selain ketiga fitur di atas masih ada beberapa fitur lain seperti konsultasi dokter, jadwal tindakan operasi sebagai reminder kita ketika memiliki jadwal operasi yang akan dilakukan, dan ada riwayat pelayanan dimana kita bisa melihat rekam medis kita mulai dari rekam medias di faskes tingkat 1, di rumah sakit, dan operasi apa yang telah kita lakukan. Dan masih ada beberapa fitur lainnya yang bisa menjadi informasi dan memudahkan kita sebagai pengguna BPJS.

Kesimpulan

Dalam pelayanan publik mungkin efek yang sangat dirasakan adalah prosedur yang seakan ribet, proses mengantri yang lama, dsb. Tetapi di samping itu manfaat yang didapatkan terutama dengan menggunakan BPJS adalah fasilitas yang diberikan sebagai jaminan kesehatan dan dengan harga yang murah bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dan bila kita bisa memahami semua prosedur dan proses itu merupakan konsekwensi logis dari fasilitas yang didapat, maka kita bisa memanfaatkannya dengan optimal. Dan bila kita memahami prosedurnya dengan baik dan mengikutinya, maka bisa tidak ribet karena kita bisa menemukan pola untuk mengatasinya, apalagi dengan bantuan aplikasi mobile JKN yang semakin memudahkan. Maka pahami langkahnya, jalani prosesnya, dan dapatkan manfaatnya.

Sulit Mendapatkan Pelayanan Kesehatan? Jangan Jadikan Ekonomi dan Administrasi sebagai Alasan!

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Beberapa hari yang lalu, ibu saya mengabari bahwa teman dari adik saya meninggal dunia di usia sangat muda karena penyakit autoimun. Berita ini membuat saya tertegun karena kematian tidak melihat usia. Belum tentu yang berusia muda segar bugar bisa hidup lebih lama daripada yang berusia senja dan mengidap penyakit komplikasi. Kenyataan tersebut memunculkan pertanyaan : “Apa yang sudah saya siapkan jika besok malaikat maut menjemput? Apakah timbangan amal kebaikan atau dosa bergosip yang lebih berat? Lalu, apakah sudah siap meninggalkan suami dan anak duluan? Bukannya masih banyak impian yang ingin dicapai? Bukanya ingin mendidik anak dengan benar dan melihatnya menjadi orang berguna?”. Duh, jadi merinding, hihi. Kalo saya sih monmaap, masih belum siap menghadapi kematian!

Ada pepatah kuno yang bilang bahwa : mencegah lebih baik daripada mengobati. Di usia yang udah upgrade ke angka 3.0 ini, saya mulai sadar bahwa ada kesehatan adalah hal yang mungkin sering saya take it for granted. Kesehatan adalah privilege yang harus dijaga melalui asupan makanan yang sehat, olahraga rutin dan pola tidur yang sehat. Manfaatnya memang tidak dirasakan dalam waktu dekat, tetapi 20 – 30 tahun lagi baru bisa dirasakan. Pingin nggak sih, badan tetep sehat dan nggak jompo di usia 50 tahun? Kalo saya sih pengen yaa, kan healthy goals saya kayak Sophia Latjuba :p.

Apakah menjaga kesehatan aja cukup? Oh, tentu tidak. Ada kondisi dimana harus prepare for the worst. Bagaimana jika tiba-tiba terpapar virus kemudian terkena penyakit yang membuat kita tidak bisa bekerja lagi? Bagaimana jika tabungan yang kita miliki tidak sebanding dengan biaya pengobatan? Solusinya adalah asuransi. Fungsi dari kepemilikan asuransi secara umum adalah membantu para peserta untuk meminimalkan kerugian dari kejadian tak terduga yang mungkin terjadi seperti biaya kerugian bencana kebakaran, kecelakaan, dan biaya rumah sakit. Sebagai rakyat Indonesia kita berhak mendapatkan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial dari pemerintah, melalui program Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS).

BPJS Kesehatan bertugas menyelenggarakan program jaminan kesehatan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas, dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.

Tapi denger-denger pelayanan BPJS nggak profesional? Eits, saya mau cerita beberapa pengalaman peserta yang terbantu sekali dengan pelayanan BPJS Kesehatan.

Terlihat Fit di Usia Tua?

Pagi tadi saya berkunjung ke salah satu rumah teman saya. Dari luar rumahnya nampak sepi, namun ternyata orang-orang di dalamnya sedang sibuk beraktifitas. Saya kagum melihat keluarga teman saya, terutama ayahnya. Secara fisik beliau terlihat sudah tua, namun semangat kerja kerasnya sangat terasa.

Bapak Rusman namanya, beliau adalah pelaku usaha kuliner. Pagi-pagi sekali Pak Rus (begitu panggilan akrabnya) sudah pergi ke pasar untuk berbelanja bahan baku. Setelah itu repot di dapur untuk mengolah makanan yang dijualnya. Ketika makanan sudah siap, beliau berjualan mulai siang hingga petang.

Ketika saya bertanya pada teman saya “Kok bisa sih Bapakmu masih selincah itu di usia tuanya?” saya mendapat jawaban yang mengejutkan. Ternyata, ayah teman saya itu merupakan penderita penyakit jantung. Dibalik tubuhnya yang terlihat masih fit di usia tua, siapa sangka Pak Rus sudah dua kali melakukan operasi pasang ring.

Jantung adalah organ terpenting dalam tubuh. Kehadirannya menjadi “sumber kehidupan”. Maka, menjaga kesehatan jantung adalah hal yang mutlak. Karena jika mengalami penyakit jantung, si organ “sumber kehidupan” sudah pasti akan menghabiskan biaya yang besar.

BPJS Hadir Bukan Hanya untuk Mereka yang “Berada”

Pak Rus sendiri divonis mengidap penyakit jantung sejak 2016, pasang ring dua kali, dan harus rutin kontrol sebulan sekali, tidak boleh lepas dari obat-obatan. Saat itu yang terlintas dalam pikiran saya “Pasang ring kan mahal, uda habis berapa puluh juta?”. Karena penasaran saya langsung bertanya dan teman saya menjelaskan bahwa ayahnya selama ini berobat menggunakan fasilitas BPJS. Mereka sangat bersyukur karena selama ini biaya berobat selalu dicover oleh BPJS. Tidak terbayang jika tidak ada bantuan BPJS, menjual rumah pun rasanya tak cukup.

Benar saja, sedikit cerita dari teman saya saat menemani ayahnya kontrol pasca pasang ring ke-dua, dokter mengatakan “Wah, Bapak ini keren loh di tubuhnya Bapak ini ada 60 juta”. Angka yang fantastis bukan? Apa jadinya pelaku usaha skala kecil harus membiayai pengobatan sebesar 60 juta. Tidak berhenti di situ biaya yang dikeluarkan lebih dari 60 juta jika dihitung sejak 2016 hingga sekarang, ya ibaratnya uangnya bisa dipakai bangun rumah.

BPJS hadir sebagai solusi kesehatan bukan hanya untuk mereka yang berada, tapi menjangkau mereka yang di bawah. Proses untuk menggunakan fasilitas kesehatan pun bisa dibilang sangat mudah. Cukup dengan melengkapi administrasi dan mengikuti prosedur yang ada, mereka yang memiliki kesulitan ekonomi bisa tetap menjaga kesehatan diri.

Pakai BPJS Dijamin Anti Ribet

Ngomongin soal BPJS sebenernya ribet gak sih kalau harus berobat pakai BPJS? No, gak ribet kok. Cuma ya gitu gak ada segala sesuatu di dunia ini yang instan, orang bikin mie instan aja butuh proses kok. Contohnya pada case teman ayah saya. Pertama kali ketika mengeluhkan gejala sesak, nyeri pada punggung dan seperti orang masuk angin, teman saya langsung membawa ayahnya ke Puskesmas. Dari sana, akan dilihat jika Puskesmas tidak mampu menangani akan dirujuk ke Rumah Sakit daerah yang bisa menggunakan fasilitas BPJS. Administrasi yang disiapkan pun mudah seperti fotokopi KK dan KTP.

Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan mendetail di Rumah Sakit rujukan. Jika memang harus mendapatkan perawatan intensif bahkan sampai melakukan operasi, masyarakat akan tetap dibantu oleh BPJS. Masalah biaya? Jangan khawatir, jika memang tidak mampu akan sepenuhnya dicover.

Namun, memang yang mengantri untuk mendapatkan pelayanan tidak sedikit jadi memang harus maklum. Seperti operasi jantung misalnya, banyak warga yang harus dibantu sehingga tidak bisa saat itu juga. Tetap harus memperhatikan tingkat mendesak untuk dilakukannya operasi, banyaknya yang mengantri dan ketersediaan kamar.

Jangan khawatir ketika memang sudah mendapatkan jadwal pihak Rumah Sakit akan menghubungi kita. Kebetulan saat ayah teman saya mendapatkan informasi jadwal operasi dihubungi via telepon.

Kesulitan Ekonomi dan Ribetnya Administrasi Bukan Alasan Kesulitan Berobat

Dari cerita teman saya, saya merasa sangat kagum dengan BPJS. Bagaimana tidak, mereka yang memiliki kesulitan ekonomi bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang bagus bisa dibilang tidak kalah dengan pelayanan kesehatan yang ekonominya menengah ke atas.

Walaupun memang harus diingat tidak ada yang instan di dunia ini. Saya rasa tidak masalah kalau harus sedikit mondar-mandir untuk melengkapi administrasi dan meminta rujukan. Hal tersebut saya rasa cukup wajar dan bahkan tidak ada apa-apanya jika melihat pelayanan yang diberikan.

Jangan pernah jadikan kesulitan ekonomi sebagai alasan kesulitan berobat. Karena terkadang yang membuat sulit adalah diri kita sendiri. Sulit karena malas menyiapkan administrasi, malas untuk mondar-mandir sana sini. Padahal kesehatan adalah investasi, tak heran jika ada yang mengatakan “Sehat itu Mahal Harganya.”