BPJS Anti Ribet: Ikuti Langkahnya, Dapatkan Manfaatnya

Kala itu sebelum pandemi hadir di dunia ini dan muncul larangan untuk berkumpul, aku terbilang cukup sering mengadakan kegiatan berkumpul dengan teman dan sahabat-sahabatku. Sederhana alasannya, hanya untuk mengobrol dan mengupdate kabar satu sama lain sembari ditemani mengemil atau makan bersama. Aku menganggap tatap muka dan mengobrol secara langsung tidak bisa digantikan, meskipun dengan melakukan panggilan video sekalipun. Sehingga aku senang sekali ketika bertemu dan berkumpul dengan teman dan sahabat-sahabatku.

Sampai suatu hari aku dan beberapa temanku sedang berkumpul di salah satu rumah kawan kami, di sana tersedia berbagai jenis makanan yang sangat menggugah selera. Dan biasanya ada seorang temanku yang sangat senang makan, atau sekedar melakukan icip-icip tiap sajian yang tersedia. Tapi anehnya hari ini dia kelihatan tidak bersemangat dan sedikit makan. Saat kudekati dan kutanya apakah dia sedang sakit atau merasa tidak nyaman, ternyata kawanku satu ini mengaku sedang mengalami sakit pada bagian rahangnya yang menyebabkan dia merasa sangat tidak nyaman ketika makan, berbicara, atau sekedar membuka dan menutup mulutnya. Dan ternyata dalam beberapa hari lagi dia akan melangsungkan operasi cabut gigi geraham belakangnya akibat keluhan yang dia rasakan. Lalu aku bertanya, kenapa harus sampai operasi jika tindakannya hanya cabut gigi? Lalu apakah tidak akan mahal biayanya? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku, dan akhirnya dia menjelaskan prosesnya satu persatu.

Ternyata karena tumbuhnya gigi geraham paling belakang yang tidur sehingga mendorong gigi-gigi yang ada di depannya. Tapi dampak yang muncul bisa banyak, dan keluhan dia rasakan ketika itu adalah rahangnya terasa sulit ketika membuka dan menutup. Bahkan terasa ada yang mengganjal saat rahang bawah digerakkan yang akibatnya ketika membuka rahang terlalu lebar akan terasa ada posisi rahang yang bergeser dari posisinya atau ada sensasi “klek klek” saat menggerakkan rahang. Tidak sampai situ saja, pada akhirnya dia merasakan rasa nyeri di bagian pipi kanannya di area dekat telinga yang bila  ditekan dengan tangan akan terasa di posisi titik pertemuan rahang atas dan bawah. Setelah merasakan semua keluhan itu selama berhari-hari barulah dia berinisiatif untuk memeriksakannya ke dokter.

Pertama-tama dia mengunjungi dokter gigi yang ada di puskesmas dengan memanfaatkan fasilitas BPJS yang dimilikinya. Selama proses pemeriksaan itu tidak ditarik biaya sama sekali, dan disimpulkan bahwa mungkin sebabnya adalah gigi geraham paling belakangnya yang tumbuh tidur tadi. Segeralah dia dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut menuju poli bedah mulut. Sesampainya di rumah sakit dengan rujukan dari puskesmas, kesimpulan yang ia dapatkan adalah harus melakukan operasi untuk mencabut gigi geraham belakang itu supaya keluhan yang saya rasakan bisa berkurang. Dan karena posisi gigi yang tumbuhnya tidur dan gigi tersebut belum muncul ke permukaan, maka perlu dilakuka pembedahan untuk mengeluarkan gigi-gigi tersebut. Ya, gigi-gigi karena ternyata yang dicabut adalah 2 gigi geraham paling belakang yang ada di rahang bawahnya sehingga memerlukan prosedur bius total dan mengharuskan ia dioperasi.

Prosedur Operasi yang Harus Dilalui

Pada hari yang sama dia mendapatkan hasil dari rumah sakit untuk melakukan operasi, tahap pertama yang dilakukan adalah membutuhkan foto rontgen bagian giginya. Dan pada hari yang sama ia diberi surat untuk ke bagian radiologi untuk melakukan foto bagian rahang. Setelah itu keesokan harinya diminta kembali ke poli untuk mengkonsultasikan hasil fotonya.

Keesokan harinya saat konsultasi, dokter menjelaskan bagaimana prosedur ketika operasi nantinya dan resiko-resiko yang muncul dan menentukan jadwal operasi. Setelah konsultasi berakhir lalu diberi surat kontrol untuk kembali ke poli 2 minggu kemudian dan melakukan persiapan operasi seperti pemeriksaan darah, menandatangani surat untuk administrasi operasi dan pembayaran oleh BPJS. Kemudian datanglah hari penanganan operasi, dengan menginap 3 hari 2 malam dan prosesdur operasi menggunakan bius total akhirnya dia bisa melaksanakan operasi cabut gigi geraham itu dengan sukses. Dan saat ini keluhan sakit itu sudah menghilang. Dan dari keseluruhan proses itu, kawanku sama sekali tidak mengeluarkan biaya sepeser pun karena menggunakan fasilitas BPJS yang dia miliki. Lalu aku bertanya sekali lagi kepadanya, apakah dia tidak merasa ribet dengan semua proses itu yang harus bolak-balik ke rumah sakit karena BPJS mengharuskan satu hari hanya boleh mendatangi 1 poli. Dan dia menawab, jika dibilang ribet mungkin terlihat seperti itu apalagi pengguna BPJS pasti diharuskan mengantri berjam-jam. Tetapi jika kita mengikuti setiap alur dan prosedurnya dengan baik, itu akan setimpal dengan fasilitas yang didapatkan. Karena semua biaya rumah sakit ditanggung dan juga setiap bulan kita hanya membayar dengan biaya yang terjangkau terutama bagi kalangan menengah ke bawah yang membutuhkan asuransi tetapi dengan harga yang merakyat, BPJS merupakan sebuah solusi asuransi kesehatan yang merakyat.

Setelah itu aku menelusuri lebih dalam mengenai BPJS, dan aku menemukan bahwa saat ini BPJS membuat aplikasi Mobile JKN. Yang dimana aplikasi itu dibuat tentu untuk memudahkan pengguna BPJS dalam memanfaatkan fasilitas BPJS yang ada. Dan keribetan proses yang harus dilalui untuk mendapatkan fasilitas BPJS bisa dipermudah dengan adanya Mobile JKN ini.  Yang dimana dalam aplikasi tersebut banyak sekali fitur-fitur yang memudahkan pengguna BPJS mulai dari melakukan pembayaran hingga melakukan pendaftaran secara online, dan banyak fitur lainnya yang memudahkan kita.

Seputar Mobile JKN

Halaman Depan Aplikasi Mobile JKN.
Sumber: Screenshot aplikasi Mobile JKN

Dengan adanya aplikasi tersebut bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin sebagai pengguna BPJS, karena manfaat yang dirasakan bisa banyak sekali. Diantaranya adalah:

  1. Fitur ketersediaan tempat tidur
Halaman Fitur Ketersediaan Tempat Tidur.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN
Halaman Ketersediaan Tempat Tidur di Rumah Sakit Terkait.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN

Dari fitur ini bisa memunculkan data rumah sakit terdekat dari lokasi kita dan dari masing-masing rumah sakit itu bisa diketahui berapa jumlah ketersediaan tempat tidur yang ada mulai dari kelas 1 sampai dengan VVIP. Fitur ini bisa berguna bila kita hendak memetakan rumah sakit mana yang terdekat dari lokasi kita dan hendak melakukan opname atau rawat inap.

  • Fitur pendaftaran pelayanan :
Halaman Fitur Pendaftaran Pelayanan.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN

Fitur ini bisa memudahkan kita ketika hendak melakukan pendaftaran untuk faskes tingkat 1. Karena secara prosedur BPJS diharuskan untuk ke faskes tingkat 1 seperti puskesmas setingkat, kemudian bisa membutuhkan tindakan lanjut barulah dirujuk ke rumah sakit. Dengan mendaftar secara online, maka kita bisa mendapatkan nomor antrian lebih awal dibandingkan harus datang ke tempat dan mengambil nomor antrian secara on the spot. Kemudian kita bisa datang sesuai dengan nomor antrian yang didapat. Hal ini tentu saja sangat praktis dan memudahkan kita.

Dan bagi warga Surabaya, pemkot juga membuat aplikasi E-health untuk mendukung pengguna BPJS juga dimana fungsinya sama dengan fitur pendaftaran pelayanan dalam aplikasi mobile JKN, yaitu untuk mengambil nomor antrian secara online.

  • Fitur pembayaran (Pembayaran Auto Debit dan Pembayaran):
Halaman Fitur autodebet.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN

Halaman fitur pembayaran.
Sumber: Screenshot aplikasi mobile JKN

Dalam aplikasi mobile JKN juga disediakan fitur pembayaran, sehingga ketika membayar tagihan BPJS tiap bulannya bisa langsung melalui aplikasi tanpa ribet-ribet melalui aplikasi lain. Dan yang terbaru ada fitur auto debit, dimana akan semakin praktis bagi pengguna aplikasi karena setiap bulannya akan otomatis melakukan penagihan auotdebet di bank yang kita miliki. Sehingga secara otomatis akan tertagih untuk pembayaran BPJS.

Selain ketiga fitur di atas masih ada beberapa fitur lain seperti konsultasi dokter, jadwal tindakan operasi sebagai reminder kita ketika memiliki jadwal operasi yang akan dilakukan, dan ada riwayat pelayanan dimana kita bisa melihat rekam medis kita mulai dari rekam medias di faskes tingkat 1, di rumah sakit, dan operasi apa yang telah kita lakukan. Dan masih ada beberapa fitur lainnya yang bisa menjadi informasi dan memudahkan kita sebagai pengguna BPJS.

Kesimpulan

Dalam pelayanan publik mungkin efek yang sangat dirasakan adalah prosedur yang seakan ribet, proses mengantri yang lama, dsb. Tetapi di samping itu manfaat yang didapatkan terutama dengan menggunakan BPJS adalah fasilitas yang diberikan sebagai jaminan kesehatan dan dengan harga yang murah bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dan bila kita bisa memahami semua prosedur dan proses itu merupakan konsekwensi logis dari fasilitas yang didapat, maka kita bisa memanfaatkannya dengan optimal. Dan bila kita memahami prosedurnya dengan baik dan mengikutinya, maka bisa tidak ribet karena kita bisa menemukan pola untuk mengatasinya, apalagi dengan bantuan aplikasi mobile JKN yang semakin memudahkan. Maka pahami langkahnya, jalani prosesnya, dan dapatkan manfaatnya.

Sulit Mendapatkan Pelayanan Kesehatan? Jangan Jadikan Ekonomi dan Administrasi sebagai Alasan!

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Beberapa hari yang lalu, ibu saya mengabari bahwa teman dari adik saya meninggal dunia di usia sangat muda karena penyakit autoimun. Berita ini membuat saya tertegun karena kematian tidak melihat usia. Belum tentu yang berusia muda segar bugar bisa hidup lebih lama daripada yang berusia senja dan mengidap penyakit komplikasi. Kenyataan tersebut memunculkan pertanyaan : “Apa yang sudah saya siapkan jika besok malaikat maut menjemput? Apakah timbangan amal kebaikan atau dosa bergosip yang lebih berat? Lalu, apakah sudah siap meninggalkan suami dan anak duluan? Bukannya masih banyak impian yang ingin dicapai? Bukanya ingin mendidik anak dengan benar dan melihatnya menjadi orang berguna?”. Duh, jadi merinding, hihi. Kalo saya sih monmaap, masih belum siap menghadapi kematian!

Ada pepatah kuno yang bilang bahwa : mencegah lebih baik daripada mengobati. Di usia yang udah upgrade ke angka 3.0 ini, saya mulai sadar bahwa ada kesehatan adalah hal yang mungkin sering saya take it for granted. Kesehatan adalah privilege yang harus dijaga melalui asupan makanan yang sehat, olahraga rutin dan pola tidur yang sehat. Manfaatnya memang tidak dirasakan dalam waktu dekat, tetapi 20 – 30 tahun lagi baru bisa dirasakan. Pingin nggak sih, badan tetep sehat dan nggak jompo di usia 50 tahun? Kalo saya sih pengen yaa, kan healthy goals saya kayak Sophia Latjuba :p.

Apakah menjaga kesehatan aja cukup? Oh, tentu tidak. Ada kondisi dimana harus prepare for the worst. Bagaimana jika tiba-tiba terpapar virus kemudian terkena penyakit yang membuat kita tidak bisa bekerja lagi? Bagaimana jika tabungan yang kita miliki tidak sebanding dengan biaya pengobatan? Solusinya adalah asuransi. Fungsi dari kepemilikan asuransi secara umum adalah membantu para peserta untuk meminimalkan kerugian dari kejadian tak terduga yang mungkin terjadi seperti biaya kerugian bencana kebakaran, kecelakaan, dan biaya rumah sakit. Sebagai rakyat Indonesia kita berhak mendapatkan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial dari pemerintah, melalui program Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS).

BPJS Kesehatan bertugas menyelenggarakan program jaminan kesehatan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas, dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.

Tapi denger-denger pelayanan BPJS nggak profesional? Eits, saya mau cerita beberapa pengalaman peserta yang terbantu sekali dengan pelayanan BPJS Kesehatan.

Terlihat Fit di Usia Tua?

Pagi tadi saya berkunjung ke salah satu rumah teman saya. Dari luar rumahnya nampak sepi, namun ternyata orang-orang di dalamnya sedang sibuk beraktifitas. Saya kagum melihat keluarga teman saya, terutama ayahnya. Secara fisik beliau terlihat sudah tua, namun semangat kerja kerasnya sangat terasa.

Bapak Rusman namanya, beliau adalah pelaku usaha kuliner. Pagi-pagi sekali Pak Rus (begitu panggilan akrabnya) sudah pergi ke pasar untuk berbelanja bahan baku. Setelah itu repot di dapur untuk mengolah makanan yang dijualnya. Ketika makanan sudah siap, beliau berjualan mulai siang hingga petang.

Ketika saya bertanya pada teman saya “Kok bisa sih Bapakmu masih selincah itu di usia tuanya?” saya mendapat jawaban yang mengejutkan. Ternyata, ayah teman saya itu merupakan penderita penyakit jantung. Dibalik tubuhnya yang terlihat masih fit di usia tua, siapa sangka Pak Rus sudah dua kali melakukan operasi pasang ring.

Jantung adalah organ terpenting dalam tubuh. Kehadirannya menjadi “sumber kehidupan”. Maka, menjaga kesehatan jantung adalah hal yang mutlak. Karena jika mengalami penyakit jantung, si organ “sumber kehidupan” sudah pasti akan menghabiskan biaya yang besar.

BPJS Hadir Bukan Hanya untuk Mereka yang “Berada”

Pak Rus sendiri divonis mengidap penyakit jantung sejak 2016, pasang ring dua kali, dan harus rutin kontrol sebulan sekali, tidak boleh lepas dari obat-obatan. Saat itu yang terlintas dalam pikiran saya “Pasang ring kan mahal, uda habis berapa puluh juta?”. Karena penasaran saya langsung bertanya dan teman saya menjelaskan bahwa ayahnya selama ini berobat menggunakan fasilitas BPJS. Mereka sangat bersyukur karena selama ini biaya berobat selalu dicover oleh BPJS. Tidak terbayang jika tidak ada bantuan BPJS, menjual rumah pun rasanya tak cukup.

Benar saja, sedikit cerita dari teman saya saat menemani ayahnya kontrol pasca pasang ring ke-dua, dokter mengatakan “Wah, Bapak ini keren loh di tubuhnya Bapak ini ada 60 juta”. Angka yang fantastis bukan? Apa jadinya pelaku usaha skala kecil harus membiayai pengobatan sebesar 60 juta. Tidak berhenti di situ biaya yang dikeluarkan lebih dari 60 juta jika dihitung sejak 2016 hingga sekarang, ya ibaratnya uangnya bisa dipakai bangun rumah.

BPJS hadir sebagai solusi kesehatan bukan hanya untuk mereka yang berada, tapi menjangkau mereka yang di bawah. Proses untuk menggunakan fasilitas kesehatan pun bisa dibilang sangat mudah. Cukup dengan melengkapi administrasi dan mengikuti prosedur yang ada, mereka yang memiliki kesulitan ekonomi bisa tetap menjaga kesehatan diri.

Pakai BPJS Dijamin Anti Ribet

Ngomongin soal BPJS sebenernya ribet gak sih kalau harus berobat pakai BPJS? No, gak ribet kok. Cuma ya gitu gak ada segala sesuatu di dunia ini yang instan, orang bikin mie instan aja butuh proses kok. Contohnya pada case teman ayah saya. Pertama kali ketika mengeluhkan gejala sesak, nyeri pada punggung dan seperti orang masuk angin, teman saya langsung membawa ayahnya ke Puskesmas. Dari sana, akan dilihat jika Puskesmas tidak mampu menangani akan dirujuk ke Rumah Sakit daerah yang bisa menggunakan fasilitas BPJS. Administrasi yang disiapkan pun mudah seperti fotokopi KK dan KTP.

Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan mendetail di Rumah Sakit rujukan. Jika memang harus mendapatkan perawatan intensif bahkan sampai melakukan operasi, masyarakat akan tetap dibantu oleh BPJS. Masalah biaya? Jangan khawatir, jika memang tidak mampu akan sepenuhnya dicover.

Namun, memang yang mengantri untuk mendapatkan pelayanan tidak sedikit jadi memang harus maklum. Seperti operasi jantung misalnya, banyak warga yang harus dibantu sehingga tidak bisa saat itu juga. Tetap harus memperhatikan tingkat mendesak untuk dilakukannya operasi, banyaknya yang mengantri dan ketersediaan kamar.

Jangan khawatir ketika memang sudah mendapatkan jadwal pihak Rumah Sakit akan menghubungi kita. Kebetulan saat ayah teman saya mendapatkan informasi jadwal operasi dihubungi via telepon.

Kesulitan Ekonomi dan Ribetnya Administrasi Bukan Alasan Kesulitan Berobat

Dari cerita teman saya, saya merasa sangat kagum dengan BPJS. Bagaimana tidak, mereka yang memiliki kesulitan ekonomi bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang bagus bisa dibilang tidak kalah dengan pelayanan kesehatan yang ekonominya menengah ke atas.

Walaupun memang harus diingat tidak ada yang instan di dunia ini. Saya rasa tidak masalah kalau harus sedikit mondar-mandir untuk melengkapi administrasi dan meminta rujukan. Hal tersebut saya rasa cukup wajar dan bahkan tidak ada apa-apanya jika melihat pelayanan yang diberikan.

Jangan pernah jadikan kesulitan ekonomi sebagai alasan kesulitan berobat. Karena terkadang yang membuat sulit adalah diri kita sendiri. Sulit karena malas menyiapkan administrasi, malas untuk mondar-mandir sana sini. Padahal kesehatan adalah investasi, tak heran jika ada yang mengatakan “Sehat itu Mahal Harganya.”

QRIS: Solusi Transaksi Digital Masa Depan dengan Segudang Manfaat

Berbisnis di Masa Pandemi

Kala itu di bulan September 2020, masih terngiang di telinga saya dan suami berita sedih tentang para dokter senior dan nakes yang berguguran karena covid, cerita dari teman terdekat yang kena layoff karena efisiensi budget perusahaan, sehingga tingkat pengangguran meningkat karena makin sulit mencari pekerjaan. 

Kontraksi ini terasa sampai lini pelaku UMKM, banyak yang gulung tikar dan tidak jarang UMKM yang menjual apa saja supaya bisa bertahan. Termasuk bisnis makanan ayam geprek rintisan keluarga suami.

Realitas tersebut mendorong kami untuk keluar dari zona nyaman dan melakukan sesuatu. Kami memilih membeli franchise fried chicken milik keluarga suami dengan brand Ayam Kriwul dan memanfaatkan garasi rumah kami untuk melayani pembelian takeaway dan resto online saja dengan penerapan protokol kesehatan. 

Serba Serbi Pembayaran Cashless

Sejak awal masa pandemi hingga saat ini, pemerintah menghimbau untuk melakukan pembayaran cashless dan mengurangi penggunaan uang cash untuk menekan penyebaran virus covid pada saat pertukaran uang. Pembayaran cashless juga mempermudah proses transaksi karena kami tidak perlu menyediakan uang kembalian dan mengurangi kekhawatiran atas uang palsu

Pembayaran cashless ini pun didominasi pembelian di resto online. Mayoritas pelanggan offline–yang membeli langsung ke merchant–masih menggunakan pembayaran cash. Berdasarkan data tersebut, penggunaan pembayaran cashless di merchant kami masih sedikit, namun justru ini tantangan tersendiri untuk mengedukasi dan mengajak pelanggan offline–terutama generasi milenial sebagai target market kami–membayar secara cashless

Beberapa strategi yang kami terapkan untuk menggaet Pelanggan offline membayar secara cashless adalah gencar memberikan diskon untuk pembelian offline dengan pembayaran cashless dan menyediakan alat pembayaran cashless di merchant.

Berdasarkan data jenis pembayaran setelah 3 bulan bisnis Ayam Kriwul Surabaya berjalan, ada 3 dari 10 pelanggan yang sudah membayar secara cashless


Rasio penjualan cash dan cashless di merchant kami dalam Pie Chart (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Nah, penyedia jasa pembayaran cashless atau Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) ini juga ada banyak sekali macamnya lho. Kebetulan kami baru menyediakan QR Code dari salah satu PJSP A. Pelanggan offline bisa melakukan pembayaran melalui aplikasi PJSP A melalui scan QR Code. Hingga pada suatu hari ada pelanggan bertanya tentang pembayaran cashless selain PJSP A. 

Pembeli: “Kak, disini nerima pembayaran pake S*Pay/G*Pay nggak, kak?” 

Penjual : “Maaf kak, belum bisa (menerima pembayaran itu) kak. Sementara hanya ini saja kak”

Pembeli: “Waduh saya pas nggak ada saldo disitu kak… Cash aja ya kalo gitu”

Nyesek banget! Gagal deh upaya kami menggaet pelanggan untuk membayar cashless. Dari sini, kami sebagai pelaku UMKM merasakan pain-point dalam pengadaan pembayaran cashless, kebayang dong betapa ribet dan lamanya harus upload dokumen registrasi dan verifikasi ke banyak PJSP. Apakah pelaku UMKM lain di luar sama yang juga merasakan hal yang sama seperti kami? Lalu bagaimana solusinya?

Nyesek banget!

More

Tips Jenius untuk Survive di Era Cashless

 

Era Cashless, Yay or Nay?

Disrupsi era digital menyebabkan perubahan gaya hidup dan pola konsumsi di masyarakat. Platform sosial media nggak lagi hanya sebagai media komunikasi dengan teman lama, tetapi menjelma jadi multi-purpose media, salah satunya: media promosi lapak. Apalagi setelah payday XD. Feeds penuh dengan posting tentang promosi gamis  beradu dengan posting promo popok murah free ongkir dari marketplace. Kalau buka marketplace abis gajian, harus kuat iman banget deh untuk menghindari tombol: add-to-cart, checkout dan payment!

Tanpa disadari metode pembayaran kita berubah sesuai perkembangan jaman. Dulu nggak pakai digital payment jenis apapun nggak masalah tuh, sekarang masih bisa? Dulu nggak pernah beli makanan di transportasi online, sekarang masih bisa tutup mata dengan promo dan pembelian dengan point? Ini adalah bukti bahwa era cashless ini bener-bener udah di depan mata yang mana kita hampir nggak punya options untuk menghindar lagi. The only solution is to update knowledge skill about digital finance for the better future. Pada 3-5 tahun lagi digital payment ini akan semakin menggeliat lho! Kebayang kan kalo anak kita udah sekolah, uang saku kita transfer berupa saldo digital payment padahal hanya untuk nge-jajan makanan di kantin sekolah bayarnya udah pake scan QR-code!

Digital-Payment
The Dawn of Digital Payment (sumber: Shutterstock)

Ada sedikit insight dari penelitian yang dilakukan tahun 2015 tentang Less Cash Sociey: Menakar Mode Konsumerisme Baru Kelas Menengah Indonesia bahwa tanpa disadari teknologi punya peran besar dalam mendorong masyarakat kelas menengah Indonesia menjadi lebih konsumtif melalui pembayaran cashless. Coba hitung deh Moms, berapa kali dalam sebulan kita beli makanan dengan promo transportasi online? Padahal masih ada bahan makanan yang bisa diolah di kulkas. Nah, yang pernah ngelakui hal tersebut, toss dulu!

Pola pembelian yang nggak berdasar pada kebutuhan ini lama-lama bisa berefek pada karakter kita lho! Karakter yang terbiasa suka membeli barang tanpa direncanakan, sehingga pengeluaran sering over-budget. Apalagi karena pembayaran cashless ini sangat effortless banget kan ya Moms, sehingga secara psikologis kita nggak ngerasa bahwa beneran udah mengeluarkan uang which is kalo ditotal ternyata kita udah spend a lot of money. Nah, mumpung masih awal bulan dan abis gajian nih, yuk diatur lagi cashflow keluarga dan mulai develop a healthy financial habit.

Kami mau share beberapa tips supaya bisa tetap bisa foya-foya bertanggungjawab di era cashless dengan bantuan aplikasi Jenius, simak terus ya sampe habis ;).

More

Tokyo Trip Itinerary

Post ini didedikasikan untuk kalian yang butuh referensi dan ada planning untuk melakukan perjalanan ke Tokyo. Perlu diketahui sebelumnya bahwa post ini ditulis 3 tahun setelah itinerary digunakan, sehingga jika ada perbedaan harga, petunjuk transportasi, dll. bukan tanggungjawab saya XD. Itinerary ini dimulai dari Fukuoka ke Tokyo lalu kembali lagi ke Fukuoka (bukan ke Indonesia), karena perjalanan ini dilakukan saat saya lagi libur winter.

Disini saya juga nggak menyantumkan informasi biaya perjalanan berapa, karena saya juga nggak menggambarkan biaya perjalanan yang terlalu detail. Kebetulan dokumentasi perjalanan selama di Tokyo banyak yang belum saya pindah dari memori kamera ke laptop. Sehingga, saya nggak bisa cantumkan banyak-banyak gambar.

More