Family Finance, Life

Mengapa Saya Memilih Jenius?

Disclaimer: ini bukan sponsored post ya, murni pengalaman pribadi penulis. Post ini lumayan panjang.

Sejak kuarter akhir tahun lalu, saya dan suami memutuskan untuk hijrah menggunakan salah satu produk digital banking dari BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Negara) bernama Jenius. BTPN ini memang salah satu Bank BUMN yang ditunjuk pemerintah untuk mengelola uang pensiunan bulanan PNS.

Jenius, dengan slogan Banking Reinvented, adalah produk digital banking yang ditawarkan oleh BTPN yang berkomitmen untuk memberi pelayanan bagi nasabahnya untuk mengatur Life Finance dengan baik. Sounds cliche? IYA KALO BELUM COBA SENDIRI. Begini ya, awalnya saya juga nggak langsung bikin Jenius kok ketika produk ini di-launch sekitar pertengahan tahun 2017. Nyesel banget kenapa nggak gabung sejak awal dulu, karena ada banyak banget promo merchant (seinget saya dulu dengan Grab) yang terlewatkan, huhu. Tapi sekarang udah nggak nyesel, karena udah ngerasain fitur-fitur di Jenius yang nggak didapat dari bank lain.

mengapa-memilih-jenius

Kalo mau buka tabungan Jenius ini hanya lewat smartphone tanpa perlu ke bank, scan KTP, tanda tangan dan foto diri bersama KTP, lalu UDAH! Belum deng. Tinggal aktivasi pendaftaran kita. Jika kalian tinggal di Jabodetabek, Bandung, Surabaya bisa tinggal janjian aja dengan tim dari Jenius yang akan memverifikasi pendaftaranmu dengan menunjukkan KTP. Kebetulan waktu itu saya lagi di Malang, jadi saya nggak bisa janjian, tapi saya datang langsung ke CS nya Bank BTPN.

Fitur-fitur life finance yang disediakan di Jenius apa aja? Secara umum ada fitur $CashtagSaveIt, SendIt, PayMe, SplitBill, bisa request sampe 4 kartu ATM yang berbeda untuk 1 account. Saya jelaskan salah satu fitur yang membuat saya WOW yah, yakni: fitur $CashTag yang berguna untuk memudahkan transfer sesama pengguna Jenius tanpa perlu nyatet nomor rekening yang panjang itu lagi. Bye numbers. Menarik kan? Mau dijelasin yang lainnya lagi? Nanti yah, dibikin post selanjutnya :D.

What I am intend to say here is, Jenius is so Genius that everyone should give it a go. Tetapi ketika saya share ke kolega, teman terdekat atau keluarga, kebanyakan dari mereka masih sangsi dengan Jenius ini. Akhirnya, saya melakukan riset sederhana tentang pengelolaan dan keamanan dari digital banking in general serta bagaimana sustainability nya di masa depan.

Apa itu digital banking?

Digital banking adalah bentuk digitalisasi aktivitas, program dan fungsi dari sebuah bank, tidak hanya dari sisi front-end tetapi dari sisi back-end juga. Technology stack yang digunakan bank konvensional membutuhkan biaya perawatan hardware dan perpanjangan lisensi software yang lumayan mahal supaya tetap up-to-date.

Bukankah dengan adanya internet/mobile banking udah sama dengan digital banking?

Beda banget. Aplikasi digital banking lebih dari sekedar aplikasi internet/mobile banking. Perbedaannya terletak pada fitur yang disediakan. Internet/mobile banking menyediakan fitur supaya nasabah dapat melakukan transaksi seperti yang dilakukan di mesin ATM. Sedangkan aplikasi digital banking menyediakan fitur bagi nasabah untuk melakukan kegiatan perbankan yang biasanya harus dilakukan di bank, seperti: registrasi, membuka/menutup deposito, investasi melalui aplikasi, dan fitur lain seperti yg terdapat pada internet/mobile banking.

Kenapa sekarang kok banyak yang campaign digital banking?

Beberapa alasan mengapa bank konvensional banyak yang menyediakan layanan digital banking adalah:

  • Menghemat operational cost savings.
  • Supaya bisa bertahan di tengah kompetisi fintech, supaya bank tersebut tetap bisa jadi pilihan bagi nasabah, industri bank harus beradaptasi, memanfaatkan moment dan berinovasi agar bisa bertahan. Sehingga bisa menggaet user baru (pangsa pasar anak-anak muda) dan tetap mempertahankan user lama.
  • Menjamurnya berbagai macam fintech, seperti: GoPay, Ovo, LinkAja, dll. Menyebabkan customer expectation meningkat.
  • Supaya bisa menggambarkan pola konsumsi nasabah dan menentukan strategi bisnis bank kedepannya. Karena selama ini bank konvensional tidak punya laporan review yang utuh dari nasabah.

Digital banking ini kok bisa free biaya administrasi dan yang lain?

Mari kita list apa saja biaya yang perlu kita keluarkan untuk biaya administrasi SETIAP BULAN di salah satu bank konvensional, antara lain: biaya administrasi bulanan, biaya penutupan rekening, biaya penalti karena rekening pasif (saldo < 50k selama 3 bulan berturut-turut), administrasi kartu ATM (nominal nya beragam, tergantung jenis ATM), penggantian kartu ATM karena hilang/rusak, biaya transfer beda bank, biaya tarik tunai/cek saldo dari ATM di ATM Bersama, biaya gagal cek saldo dari ATM Bersama (wait, what?!?!) dan pembayaran tagihan listrik.

Belum lagi jika kita tidak sengaja menghilangkan buku tabungan, untuk re-issue buku tabungan karena rusak/hilang juga ada biayanya, pemindahbukuan, print rekening koran, permohonan penggantian PIN ATM melalui cabang, cetak mutasi 5 transaksi terakhir, saldo minimum saat pertama kali buka rekening dll.

Total dari biaya ekstra yang harus kita bayarkan setiap bulan itu banyak lho. Wow banget gak sih? Padahal jumlah unbanked people di Indonesia masih tinggi, jika potongan administrasi makin banyak, makin jiper mereka untuk menitipkan uangnya di bank XD.

Lalu, digital banking mendapatkan keuntungan darimana?

Nah, konsep digital banking ini bisa menghemat operational cost savings, seperti: harga pendirian kantor cabang bank cukup mahal dan rumit, biaya pengadaan ATM di lokasi strategis, biaya maintenance per bulan yang besar, dan gaji pegawai, dll. Sehingga tidak jarang, digital banking menyediakan hadiah, promo/diskon saat belanja di merchant tertentu untuk nasabahnya, dan program lainnya yang bisa meningkatkan kepuasan nasabah. See, dengan sistem yang terdigitalisasi, industri bank bisa focus on what matters.

Security digital banking bagaimana?

Tidak berbeda ketika kita memiliki fasilitas internet banking dari bank konvensional, bank menjamin security dari sisi aplikasi. Namun nasabah menjamin beberapa hal ini supaya tetap secure:

  • Selalu menjaga kerahasiaan data nasabah. Nomor pin dan nomor Card Verification Value (CVV) kartu kredit/debit merupakan kunci masuk untuk mengakses data perbankan.
  • Waspada terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan bank.
  • Tidak betransaksi dengan wifi publik.
  • Kenali produk dan merchant sebelum membayar.
  • Jika ada hal mencurigakan, pastikan untuk menghubungi call center resmi.

Sustainability digital banking di masa depan gimana?

Ekonomi digital di Indonesia akan terus berkembang. Jika ingin survive dalam kompetisi ekonomi digital masa depan, bank harus terus berinovasi untuk memenuhi customer expectation dari generasi milenial. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui layanan digital banking yang mana dapat meningkatkan efisiensi pada sisi operational cost, sehingga bank dapat lebih focus menentukan rencana strategis untuk nasabah dan adaptif terhadap kebutuhan industri di masa depan.

Jadi, sudah nggak ragu lagi untuk beralih ke digital banking dan punya akun di Jenius kan?

name

Sources:

1 thought on “Mengapa Saya Memilih Jenius?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s