Sulit Mendapatkan Pelayanan Kesehatan? Jangan Jadikan Ekonomi dan Administrasi sebagai Alasan!

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Beberapa hari yang lalu, ibu saya mengabari bahwa teman dari adik saya meninggal dunia di usia sangat muda karena penyakit autoimun. Berita ini membuat saya tertegun karena kematian tidak melihat usia. Belum tentu yang berusia muda segar bugar bisa hidup lebih lama daripada yang berusia senja dan mengidap penyakit komplikasi. Kenyataan tersebut memunculkan pertanyaan : “Apa yang sudah saya siapkan jika besok malaikat maut menjemput? Apakah timbangan amal kebaikan atau dosa bergosip yang lebih berat? Lalu, apakah sudah siap meninggalkan suami dan anak duluan? Bukannya masih banyak impian yang ingin dicapai? Bukanya ingin mendidik anak dengan benar dan melihatnya menjadi orang berguna?”. Duh, jadi merinding, hihi. Kalo saya sih monmaap, masih belum siap menghadapi kematian!

Ada pepatah kuno yang bilang bahwa : mencegah lebih baik daripada mengobati. Di usia yang udah upgrade ke angka 3.0 ini, saya mulai sadar bahwa ada kesehatan adalah hal yang mungkin sering saya take it for granted. Kesehatan adalah privilege yang harus dijaga melalui asupan makanan yang sehat, olahraga rutin dan pola tidur yang sehat. Manfaatnya memang tidak dirasakan dalam waktu dekat, tetapi 20 – 30 tahun lagi baru bisa dirasakan. Pingin nggak sih, badan tetep sehat dan nggak jompo di usia 50 tahun? Kalo saya sih pengen yaa, kan healthy goals saya kayak Sophia Latjuba :p.

Apakah menjaga kesehatan aja cukup? Oh, tentu tidak. Ada kondisi dimana harus prepare for the worst. Bagaimana jika tiba-tiba terpapar virus kemudian terkena penyakit yang membuat kita tidak bisa bekerja lagi? Bagaimana jika tabungan yang kita miliki tidak sebanding dengan biaya pengobatan? Solusinya adalah asuransi. Fungsi dari kepemilikan asuransi secara umum adalah membantu para peserta untuk meminimalkan kerugian dari kejadian tak terduga yang mungkin terjadi seperti biaya kerugian bencana kebakaran, kecelakaan, dan biaya rumah sakit. Sebagai rakyat Indonesia kita berhak mendapatkan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial dari pemerintah, melalui program Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS).

BPJS Kesehatan bertugas menyelenggarakan program jaminan kesehatan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas, dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.

Tapi denger-denger pelayanan BPJS nggak profesional? Eits, saya mau cerita beberapa pengalaman peserta yang terbantu sekali dengan pelayanan BPJS Kesehatan.

Terlihat Fit di Usia Tua?

Pagi tadi saya berkunjung ke salah satu rumah teman saya. Dari luar rumahnya nampak sepi, namun ternyata orang-orang di dalamnya sedang sibuk beraktifitas. Saya kagum melihat keluarga teman saya, terutama ayahnya. Secara fisik beliau terlihat sudah tua, namun semangat kerja kerasnya sangat terasa.

Bapak Rusman namanya, beliau adalah pelaku usaha kuliner. Pagi-pagi sekali Pak Rus (begitu panggilan akrabnya) sudah pergi ke pasar untuk berbelanja bahan baku. Setelah itu repot di dapur untuk mengolah makanan yang dijualnya. Ketika makanan sudah siap, beliau berjualan mulai siang hingga petang.

Ketika saya bertanya pada teman saya “Kok bisa sih Bapakmu masih selincah itu di usia tuanya?” saya mendapat jawaban yang mengejutkan. Ternyata, ayah teman saya itu merupakan penderita penyakit jantung. Dibalik tubuhnya yang terlihat masih fit di usia tua, siapa sangka Pak Rus sudah dua kali melakukan operasi pasang ring.

Jantung adalah organ terpenting dalam tubuh. Kehadirannya menjadi “sumber kehidupan”. Maka, menjaga kesehatan jantung adalah hal yang mutlak. Karena jika mengalami penyakit jantung, si organ “sumber kehidupan” sudah pasti akan menghabiskan biaya yang besar.

BPJS Hadir Bukan Hanya untuk Mereka yang “Berada”

Pak Rus sendiri divonis mengidap penyakit jantung sejak 2016, pasang ring dua kali, dan harus rutin kontrol sebulan sekali, tidak boleh lepas dari obat-obatan. Saat itu yang terlintas dalam pikiran saya “Pasang ring kan mahal, uda habis berapa puluh juta?”. Karena penasaran saya langsung bertanya dan teman saya menjelaskan bahwa ayahnya selama ini berobat menggunakan fasilitas BPJS. Mereka sangat bersyukur karena selama ini biaya berobat selalu dicover oleh BPJS. Tidak terbayang jika tidak ada bantuan BPJS, menjual rumah pun rasanya tak cukup.

Benar saja, sedikit cerita dari teman saya saat menemani ayahnya kontrol pasca pasang ring ke-dua, dokter mengatakan “Wah, Bapak ini keren loh di tubuhnya Bapak ini ada 60 juta”. Angka yang fantastis bukan? Apa jadinya pelaku usaha skala kecil harus membiayai pengobatan sebesar 60 juta. Tidak berhenti di situ biaya yang dikeluarkan lebih dari 60 juta jika dihitung sejak 2016 hingga sekarang, ya ibaratnya uangnya bisa dipakai bangun rumah.

BPJS hadir sebagai solusi kesehatan bukan hanya untuk mereka yang berada, tapi menjangkau mereka yang di bawah. Proses untuk menggunakan fasilitas kesehatan pun bisa dibilang sangat mudah. Cukup dengan melengkapi administrasi dan mengikuti prosedur yang ada, mereka yang memiliki kesulitan ekonomi bisa tetap menjaga kesehatan diri.

Pakai BPJS Dijamin Anti Ribet

Ngomongin soal BPJS sebenernya ribet gak sih kalau harus berobat pakai BPJS? No, gak ribet kok. Cuma ya gitu gak ada segala sesuatu di dunia ini yang instan, orang bikin mie instan aja butuh proses kok. Contohnya pada case teman ayah saya. Pertama kali ketika mengeluhkan gejala sesak, nyeri pada punggung dan seperti orang masuk angin, teman saya langsung membawa ayahnya ke Puskesmas. Dari sana, akan dilihat jika Puskesmas tidak mampu menangani akan dirujuk ke Rumah Sakit daerah yang bisa menggunakan fasilitas BPJS. Administrasi yang disiapkan pun mudah seperti fotokopi KK dan KTP.

Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan mendetail di Rumah Sakit rujukan. Jika memang harus mendapatkan perawatan intensif bahkan sampai melakukan operasi, masyarakat akan tetap dibantu oleh BPJS. Masalah biaya? Jangan khawatir, jika memang tidak mampu akan sepenuhnya dicover.

Namun, memang yang mengantri untuk mendapatkan pelayanan tidak sedikit jadi memang harus maklum. Seperti operasi jantung misalnya, banyak warga yang harus dibantu sehingga tidak bisa saat itu juga. Tetap harus memperhatikan tingkat mendesak untuk dilakukannya operasi, banyaknya yang mengantri dan ketersediaan kamar.

Jangan khawatir ketika memang sudah mendapatkan jadwal pihak Rumah Sakit akan menghubungi kita. Kebetulan saat ayah teman saya mendapatkan informasi jadwal operasi dihubungi via telepon.

Kesulitan Ekonomi dan Ribetnya Administrasi Bukan Alasan Kesulitan Berobat

Dari cerita teman saya, saya merasa sangat kagum dengan BPJS. Bagaimana tidak, mereka yang memiliki kesulitan ekonomi bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang bagus bisa dibilang tidak kalah dengan pelayanan kesehatan yang ekonominya menengah ke atas.

Walaupun memang harus diingat tidak ada yang instan di dunia ini. Saya rasa tidak masalah kalau harus sedikit mondar-mandir untuk melengkapi administrasi dan meminta rujukan. Hal tersebut saya rasa cukup wajar dan bahkan tidak ada apa-apanya jika melihat pelayanan yang diberikan.

Jangan pernah jadikan kesulitan ekonomi sebagai alasan kesulitan berobat. Karena terkadang yang membuat sulit adalah diri kita sendiri. Sulit karena malas menyiapkan administrasi, malas untuk mondar-mandir sana sini. Padahal kesehatan adalah investasi, tak heran jika ada yang mengatakan “Sehat itu Mahal Harganya.”

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s