Digitalisasi BPJS Kesehatan, Mudahkan Pelayanan Jelang Persalinan

Ingin Melahirkan dekat dengan Orang Tua

2018 lalu, pengalaman melahirkan pertama kali dalam hidup. Rasa cemas dan takut membuat saya tidak berani melahirkan jauh dari orang tua. Selama menjalani kehamilan saya tinggal di Surabaya hanya dengan suami. Saya pun meminta izin suami untuk melahirkan di kota Malang, dengan pertimbangan dekat dengan orang tua dan lebih banyak saudara yang bisa membantu.

Ingin melahirkan dengan asuransi BPJS Kesehatan, kami harus mengurus surat perpindahan Faskes dari Surabaya ke Malang, karena domisili kami di KTP, KK dan faskes BPJS sudah di Surabaya. Saat itu saya sudah membayangkan betapa ribetnya harus mengurus dokumen perpindahan faskes, belum lagi antri panjang di kantor BPJS Kesehatan, sementara kondisi saya sedang hamil.

Kekhawatiran saya dulu juga dialami oleh ibu hamil di tahun ini. Terlebih kita hidup berdampingan dengan pandemi. Kondisi seperti ini akan mempersulit ibu hamil jika harus mengurus dokumen secara langsung. 

Membaca artikel di website Semen Padang Hospital, Dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan Semen Padang Hospital (SPH) dr. Primadella Fegita, Sp. OG mengungkapkan bahwa ibu hamil (bumil) lebih rentan untuk terkena COVID-19. “Seorang wanita ketika tengah hamil, mereka akan lebih rentan terkena COVID-19. Hal itu karena aktivitas sel ini di tubuh ibu akan mengalami penurunan. Inilah yang mengakibatkan imunitas menjadi lemah” ujar dokter yang akrab disapa Della tersebut.

Disisi lain di era pandemi ini membuat kita mau tidak mau untuk “serba digital”. Membatasi untuk bertemu orang lain dan menjauh dari kerumunan adalah hal yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19, apalagi bagi mereka yang sedang hamil. Tak heran jika digital menjadi solusi untuk mengakses berbagai layanan.

Data Penggunaan Layanan Digital Selama Pandemi

Dari data tersebut diketahui layanan digital di bidang kesehatan dan pendidikan mengalami peningkatan, masing-masing sebesar 41% dan 38%. 

Dalam aptika.kominfo.go.id, Semuel Abrijani Pangarepan sebagai Direktur Jenderal Aplikasi Informatika mengatakan “Ketika pasien pada umumnya harus menunggu 4 jam di rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan, aplikasi telemedis berhasil memangkas waktu tunggu menjadi 35 menit saja.”

Penggunaan layanan kesehatan yang bersifat digital tentunya akan sangat menguntungkan bagi ibu hamil terutama di era pandemi, selain mencegah penyebaran Covid-19 ternyata prosesnya juga sangat cepat. 

Kembali pada cerita kehamilan saya, saat rasa khawatir akan sulitnya mengurus perpindahan faskes secara langsung muncul, saya segera mencari informasi kesana kemari. Berselancar di dunia maya sampai bertanya pada adik yang sudah berpengalaman saya lakukan. Betapa terkejutnya saya ternyata mengurus perpindahan faskes bisa sangat mudah dan simple dengan aplikasi BPJS Kesehatan. Aplikasi tersebut bernama “Mobile JKN”. Jujur saat itu baru pertama kali saya mendengarnya dan sempat muncul keraguan aplikasi ini legit atau tidak, kok namanya gak ada kata BPJS-BPJS sama sekali. Hingga akhirnya saya tahu bahwa JKN sendiri kependekan dari Jaringan Kesehatan Nasional. Belakangan ini saya mengetahui BPJS Kesehatan memiliki layanan digital selain Mobile JKN. Ada Chika, Vika dan Pandawa. 

Mengenal Produk Digitalisasi BPJS Kesehatan

Untuk semakin memudahkan pelayanan administrasi bagi para peserta asuransi BPJS Kesehatan, pemerintah memanjakan masyarakat dengan kemudahan yang didapatkan dari digitalisasi BPJS ini. Mulai dari Vika, Chika, dan JKN. Yuk, kenalan lebih dalam sama mereka! Berikut ini adalah gambar ilustrasi produk digitalisasi layanan BPJS Kesehatan:

Produk Digitalisasi BPJS Kesehatan

Pertama, Vika, adalah layanan informasi mesin penjawab melalui Care Centre BPJS Kesehatan yang ready 24/7. Vika dapat memberikan informasi tentang status tagihan dan status kepesertaan program JKN-KIS. Cukup dengan telepon ke nomor 1500 400, kita dapat langsung terhubung dengan Care Centre BPJS Kesehatan. Setelah terhubung, peserta dapat menekan  angka 1 untuk pengecekan status kepesertaan atau angka 2 untuk pengecekan status tagihan.

Selanjutnya, Chika. Chika adalah sebuah chatbot yang tersedia di platform Whatsapp, Telegram dan Facebook Messenger untuk memberikan informasi tentang status peserta, tagihan, letak faskes atau kantor cabang BPJS Kesehatan terdekat, hingga perubahan data. Untuk mengakses bot Chika, kita dapat mengirim pesan melalui Whatsapp ke nomor 08118750400,  melalui Telegram di link https://t.me/BPJSKes_bot dan bisa juga melalui Facebook Messenger ke Fanpage BPJS Kesehatan RI di https://www.facebook.com/BPJSKesehatanRI/

Ketiga, Pandawa. Pandawa adalah singkatan dari Pelayanan Administrasi melalui Whatsapp. Hadirnya Pandawa diinisiasi sebagai solusi dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan Pemerintah pada masa awal pandemi COVID-19 di Indonesia. Pandawa diharapkan dapat memudahkan kita untuk mengurus administrasi kepesertaan melalui Whatsapp tanpa harus tatap muka di kantor BPJS Kesehatan. Nomor Whatsapp Pandawa ini berbeda-beda disesuaikan dengan domisili peserta dan kantor cabang terdekat. 

Terakhir dan yang paling canggih adalah aplikasi Mobile JKN. Dengan menginstall aplikasi Mobile JKN di smartphone, kita bisa mengurus keperluan administrasi dan juga mendapatkan pelayanan di fasilitas Kesehatan. Untuk menggunakan aplikasi Mobile JKN, peserta asuransi BPJS Kesehatan harus melakukan registrasi ulang di form ‘Pendaftaran Pengguna Mobile’. Jika sudah terdaftar, peserta dapat sign-in ke aplikasi Mobile JKN.

Halaman Registrasi dan Login ke Mobile JKN

Fasilitas yang kita dapatkan saat mengakses Mobile JKN, diantaranya: 

Mengubah Data Peserta

Mengubah Data Kepesertaan

Kita bisa melakukan update data perubahan data kepesertaan antara lain: nomor telepon, e-mail, alamat terbaru, status kelas (perubahan dapat dilakukan minimal 1 tahun sekali), dan perubahan fasilitas kesehatan tingkat satu.

Cek Iuran

Cek Iuran Kepesertaan

 Untuk mengecek berapa jumlah tagihan kita yang terdaftar pada segmen Mandiri (PBPU/BP)

Pendaftaran Pelayanan

Pendaftaran Pelayanan

 Kita bisa ambil nomor antrian melalui fitur ini dan tinggal tunggu di rumah sampai giliran kita tiba, baru deh kita meluncur ke fasilitas kesehatan yang dituju. Jadi gak perlu lagi datang pagi-pagi supaya dapat nomor antrian awal atau harus capek-capek antri lagi.

Skrining Riwayat Kesehatan

Skrining Riwayat Kesehatan

Fitur ini dibuat untuk mengecek secara mandiri potensi penyakit yang kita miliki. Sehingga kita bisa melakukan deteksi dini dan melakukan tindakan pencegahan lebih awal.

Kartu JKN-KIS Digital

Kartu Digital BPJS Kesehatan

Kartu BPJS Kesehatan tertinggal atau hilang? Eits, jangan panik ya, kita bisa mengakses kartu digital melalui fitur ‘Kartu JKN-KIS’ di aplikasi Mobile JKN.

Kepesertaan BPJS Kesehatan

Kepesertaan BPJS Kesehatan

Kita bisa mengecek status kepesertaan melalui fitur ini. Jadi kita nggak ragu lagi deh dengan status kepesertaan BPJS kita masih aktif atau tidak.

Ketersediaan Tempat Tidur

Ketersediaan Tempat Tidur

Fitur ini digunakan untuk mengetahui berapa ketersediaan jumlah tempat tidur di rumah sakit terdekat dengan domisili kita.

Riwayat Pelayanan

Riwayat Pelayanan

 Pada fitur ini, kita bisa mengetahui riwayat diagnosa dari dokter setelah menerima pelayanan kesehatan di Faskes I dan Faskes Lanjutan. Keren banget, kan? Dengan adanya rekam medis digital ini, kita bisa melakukan tracking penyakit apa saja yang kita alami selama setahun terakhir, berapa kali batuk-pilek dalam setahun atau analisis lain. Selain itu, kita bisa memberi penilaian dan komentar atas pelayanan kesehatan yang kita dapatkan sebagai masukan kepada faskes tersebut. 

Pendaftaran Auto Debet

Fasilitas Auto Debet

Fitur ini berguna banget buat kita yang sering lupa bayar iuran karena ada kesibukan. Kita bisa langsung daftar autodebet di aplikasi Mobile JKN, dan bisa tenang tanpa perlu khawatir kepesertaannya non-aktif saat dibutuhkan karena lupa bayar tagihan. 

Kemudahan Persiapan Administrasi Persalinan dengan Mobile JKN

Persiapan administrasi persalinan memang idealnya dilakukan pada trimester kedua kehamilan karena kondisi fisik kita sangat mendukung untuk bergerak aktif–tidak mual seperti di trimester satu dan ukuran janin masih belum begitu besar–serta berdasarkan aturan administrasi BPJS Kesehatan, perpindahan Faskes I bisa dilakukan minimal 3 bulan sekali. 

Maksudnya gimana tuh? Gini, peserta yang ingin melakukan penggantian Faskes perlu menunggu tiga bulan terhitung dari pertama pendaftaran sebagai peserta. Jika kita adalah peserta baru, maka setidaknya kita harus terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan selama 3 bulan untuk bisa berpindah Faskes

Jika kita adalah peserta lama (> 3 bulan) telah melakukan perpindahan Faskes melalui Mobile JKN, maka setidaknya Faskes yang baru akan aktif pada satu bulan berikutnya. Selama masih menunggu proses penggantian Faskes tersebut aktif, kita masih bisa berobat di Faskes lama. Begitu pula ketika akan berpindah lagi ke Faskes lain, kita harus menunggu selama 3 bulan di Faskes saat ini untuk bisa pindah ke Faskes baru.

Kalau kita memahami aturannya, penggunaan asuransi BPJS Kesehatan ini nggak ribet lho! Apalagi saat ini ada bot Chika, Pandawa, Vika dan Mobile JKN yang bisa jadi single source of truth tentang BPJS Kesehatan

Setidaknya ada tiga kemudahan yang saya rasakan saat mempersiapkan administrasi persalinan menggunakan Mobile JKN.

Perpindahan Faskes dalam Jentikan Jari

Meskipun hamil trimester dua ini rasanya lebih enteng saat beraktivitas, tetep aja kan ada banyak steps yang harus dilakukan untuk mengurus administrasi perpindahan Faskes secara manual, seperti: 

  • Membawa Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Keluarga (KK), dan Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  • Mengisi formulir daftar isian perubahan data peserta di kantor cabang BPJS Kesehatan
  • Mengambil nomor antrian di kantor cabang BPJS Kesehatan
  • Menunggu nomor antrian dilayani oleh petugas BPJS Kesehatan
Pengurusan Administrasi BPJS Kesehatan secara Manual 
(sumber: https://mmc.tirto.id/image/otf/700×0/2019/11/05/antarafoto-dampak-kenaikan-iuran-bpjs-05112019-gp-3_ratio-16×9.jpg)

Wow, dengan menggunakan Mobile JKN untuk perpindahan Faskes kita bisa menghemat 3-4 jam waktu kita lho. Karena dengan Mobile JKN kita tidak perlu mengisi formulir perubahan data peserta, tidak perlu fotokopi KIS, KK, KTP berulang kali, tidak perlu mengambil nomor antrian dan mengantri di kantor cabang BPJS Kesehatan apalagi di masa pandemi.

Mengubah Data Fasilitas Kesehatan Tingkat I melalui Mobile JKN (sumber: dokumen pribadi)

Tampilan Informatif Permudah Memilih Faskes Tujuan

Pada aplikasi Mobile JKN ada estimasi informasi jarak (dalam meter) Faskes dengan lokasi sesuai GPS dan jumlah peserta yang terdaftar. Informasi yang sangat informatif, karena bagi saya, yang terpenting dalam memilih Faskes baru adalah: jaraknya dekat dengan rumah dan tidak banyak peserta aktif di faskes tersebut (tidak mengantri terlalu lama ketika berobat di Faskes tersebut).

Tampilan Informatif Permudah Memilih Faskes Tujuan (sumber: dokumen pribadi)

Bye Simpan Kartu BPJS Kesehatan di Dompet

Ini hal yang paling saya suka! Tidak perlu bawa kartu fisik BPJS Kesehatan di dalam dompet, selain rawan hilang, saat ini pun untuk berobat di faskes atau Rumah Sakit dengan BPJS Kesehatan bisa dilakukan dengan menunjukkan file Kartu BPJS Kesehatan ! Selain praktis, juga bisa meminimalisir rasa khawatir kartu fisik hilang atau ketinggalan saat berobat. Media penyimpanan yang paling aman dan mudah diakses untuk menyimpan kartunya ya di cloud atau di smartphone storage, jika butuh kartu fisiknya tinggal print deh sesuai kebutuhan. 

Sangat berguna saat saya masuk IGD Rumah Sakit dan harus menyerahkan fotokopi KTP dan Kartu BPJS Kesehatan ke petugas administrasi. Suami nggak lagi mencari-cari kartu BPJS Kesehatan di dompet saya atau di tas, karena file kartunya sudah saya simpan di cloud storage yang bisa diakses bersama, sehingga bisa langsung di-print malam itu juga di bagian pendaftaran pasien RS. 

Kisah Proses Persalinan dengan BPJS Kesehatan

Memahami Fasilitas Asuransi BPJS Kesehatan

Berdasarkan Panduan Praktis Kebidanan dan Neonatal, cakupan pelayanan kebidanan dan neonatal yang dijamin oleh asuransi BPJS, beberapa diantaranya: persalinan, pemeriksaan bayi baru lahir, pemeriksaan pasca persalinan atau postnatal care (PNC) gratis selama 4 kali dan pelayanan KB.

Saat itu, saya berencana untuk melakukan persalinan secara pervaginam (normal) karena pemeriksaan terakhir di Faskes I tidak terdapat tanda-tanda penyulit kelahiran. Persalinan normal diutamakan dilakukan di Faskes I, dengan biaya yang tidak ditagihkan ke peserta BPJS Kesehatan tetapi langsung diklaim oleh Faskes I langsung ke BPJS Kesehatan. Sehingga kita tidak perlu mengganti biaya persalinan karena sudah tercover oleh asuransi. 

Menerima Diagnosis Dokter untuk Operasi Caesar

Pada saat itu saya tidak memiliki surat rujukan dari Faskes I karena tidak ada indikasi penyulit persalinan. Saya pun tidak ambil pusing dengan ada/tidaknya surat rujukan, karena berencana persalinan normal. 

Tidak disangka, ternyata janin masih adem ayem aja meskipun sudah melewati Hari Perkiraan Lahir (HPL). Mulai deh agak panik, namun tetap menenangkan diri dengan berdoa. Hingga usia kandungan mencapai 40 minggu, masih belum ada tanda persalinan, Dokter bilang bahwa posisi janin sudah benar tetapi kepala belum masuk ke jalan lahir. 

Minggu ke-41, hari Jumat jam 11 malam, saat mau tidur setelah menyambut suami dari Surabaya, tiba-tiba saya merasa ada air agak keruh mengalir ke kaki saya, padahal tidak sedang buang air kecil. Panik. Saya panggil Ibu dan Nenek saya ke kamar, benar saja, mereka bilang bahwa air ketuban saya sudah keluar duluan. 

Suami segera order taksi online, Ibu dan Nenek juga ikut mengantar saya ke Rumah Sakit. Sesampainya di IGD Rumah Sakit tujuan, suami mengurus proses administrasi dan saya ditemani oleh Ibu dan Nenek. Kemudian seorang suster mengecek kondisi saya dan memindahkan saya ke ruang bersalin untuk diobservasi selama 12 jam kedepan.

Setelah proses observasi selama 12 jam, ternyata pembukaan saya berhenti di bukaan 4 dan ada penyulit persalinan, yaitu : Cephalopelvic disproportion (CPD) yang berarti ketidaksesuaian antara ukuran kepala janin dengan panggul ibu, penyebabnya karena: ukuran kepala janin semakin besar karena usia kehamilan sudah 41 minggu dan panggul saya kecil. 

Saat itu, saya menerima diagnosa Dokter dan (dengan izin suami) saya menerima keputusan dokter untuk dilakukan operasi caesar. Saya yakin dokter melakukan yang terbaik supaya janin segera lahir dengan selamat dan fisik saya tidak semakin drop. Kondisi saya saat itu benar-benar nggak bertenaga, kurang asupan makanan karena nggak kuat menahan sakitnya kontraksi.

Persalinan Nol Rupiah karena BPJS Kesehatan

Biaya persalinan anak pertama kami dengan operasi caesar nyaris nol rupiah! Padahal jika biaya obat, persalinan dan rawat inap selama tiga hari di Rumah Sakit dijumlahkan, totalnya bisa mencapai 11 juta rupiah. FYI menurut aturan BPJS Kesehatan, tidak semua operasi caesar dapat dijaminkan asuransi. Hanya operasi caesar tertentu yang dilakukan dalam kondisi gawat darurat yang dapat dijamin asuransi BPJS, contohnya: Ibu mengalami perdarahan, kejang pada kehamilan, ketuban pecah dini, gawat janin dan kondisi lain yang mengancam jiwa ibu dan bayinya. Dalam kondisi gawat darurat, kita tetap bisa menggunakan asuransi BPJS Kesehatan meskipun tanpa surat rujukan dari Faskes I.

Bagaimana dengan kualitas perawatannya? Perawatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan pun profesional dan sesuai standar, saya tidak merasakan diskriminasi antara pasien dengan asuransi BPJS Kesehatan dan umum. Untuk mendukung pemulihan pasca operasi, asuransi BPJS Kesehatan menanggung biaya satu kali kontrol pasca operasi serta obat untuk mempercepat penyembuhan jahitan.

Kesimpulan

Era pandemi membuat kita mau tidak mau menjadi serba digital, karena harus membatasi bertemu orang lain dan menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran Covid-19, terutama bagi ibu yang sedang hamil dan atau pasien dengan penyakit komorbid. Tidak heran jika digitalisasi menjadi solusi untuk mengakses berbagai layanan, terutama layanan administrasi. 

Asuransi BPJS Kesehatan sebagai program pemerintah untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan secara nasional kepada semua kalangan masyarakat. Pada masa pandemi ini, BPJS Kesehatan memiliki komitmen untuk memudahkan para peserta mengakses informasi dan mengurus administrasi BPJS Kesehatan melalui produk-produk digital BPJS Kesehatan, dimulai dari Chika sebagai chatbot berbasis Artificial Intelligence, Vika sebagai mesin penjawab berbasis suara, dan Pandawa sebagai kanal komunikasi antara peserta dengan petugas BPJS melalui Whatsapp untuk setiap daerah. Semua produk digital tersebut dibuat untuk memudahkan peserta BPJS untuk memanfaatkan berbagai fasilitas didalamnya dan yang terakhir Mobile JKN (aplikasi berbasis android/ios).

Aplikasi Mobile JKN adalah aplikasi yang wajib terinstall di smartphone peserta BPJS Kesehatan. Melalui aplikasi ini, peserta bisa mengurus hampir seluruh keperluan administrasi BPJS Kesehatan tanpa antri di kantor BPJS Kesehatan, bahkan hingga booking tanggal periksa ke Faskes tanpa harus tatap muka. Saya merasakan banyak benefit dari aplikasi Mobile JKN, salah satunya saat mengurus perpindahan faskes ke luar kota–yang merupakan bagian dari persiapan persalinan. Selain itu, saya juga sangat terbantu dengan coverage biaya persalinan yang ditanggung seluruhnya oleh BPJS Kesehatan.

Mari kita dukung keberlangsungan program BPJS Kesehatan ini dengan selalu membayar iuran bulanan secara rutin supaya program asuransi ini dapat berjalan dengan baik dan terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia secara luas.

Referensi

Published by oktavianidewi

O's blood-type​

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: