About Hobbies, About Travelling

Jadi backpacker, Why Not?

Libur akhir tahun selalu dinanti-nanti oleh banyak orang, mulai dari anak-anak TK hingga para pejabat di kantor pemerintahan—ternyata gak ada bedanya… sama-sama menantikan hari libur!

Hari libur akhir tahun ini lumayan panjang, mulai dari tanggal 24 Desember 2008 sampe tanggal 4 Januari 2009. Ada banyak pilihan untuk mengisi waktu luang, salah satunya adalah dengan belajar! Hahahaha. Sok jenius banget sih? Ya gimana ya? Berhubung tanggal 5 Januari 2009 adalah hari pertama UAS (Ujian Amat Susahhh a.k.a Ujian Akhir Semester), harus dipersiapkan sebaek mungkin dong. Eniwei, sebenernya nggak mau ngebahas tentang UAS dan persiapannya kok, tapi ngebahas tentang backpacker.

Loh kok backpacker? Begini asal-usulnya…

Beberapa hari yang lalu, saya ketemu dengan backpacker. Bersetting di pinggiran jalan di dekat stasiun Kota Baru, saya yang naek sepeda motor bebek honda astrea star tahun 1986 (niat banget ya ngasi ilustrasinya?), sedang menepi karena harus melayani pengiriman pulsa untuk pelanggan (baca : teman sekampus) yang pesen pulsa pada saya lewat sms.

Eh tiba-tiba ada seorang cowok tipe-tipe backpacker dengan tas yang segede barong, dan wajah kuyu-kuyu menghampiri saya, lalu bertanya, “Mbak, tahu nggak toko untuk beli alat-alat camping?”

Saya melongo, “Wadu, nggak tahu ya mas!” meski saya anak malang aseli, tapi ampun deh untuk urusan toko alat-alat camping.

“Mmh, kalo mau ke jalan semeru naek angkot apa ya?”tanyanya dengan logat agak sunda gitu. Pasti rombongan backpacker ni berangkat dari Jawa Barat (ya iyalah sotoy… masa dari Madura).

Yang ni gw ngarti, dalam hati gw bergumam. “Naek aja AL yang arahnya kesono!” aku nunjuk ke arah tugu.

“Loh? Nggak yang ke arah sana?” si mas menunjuk ke arah yang berlawanan

“Nggak tu mas… naek aja AL yang ke arah sana!” saya menunjuk arah ke tugu. Dengan agak heran dan sebal juga, habisnya… lha si mas tanya kok ngeyel. Capek deh… emang si mas ama gw lebih tahu sapa?

“Oh, bukan yang ke arah sana ya?” si mas masih menunjuk arah yang salah.

Dalam hati, saya menggerutu, seperti ini ‘ye… dibilangin ngotot!’

“Oiya, mbak… AL tu yang mana ya?”

“Heyya, itu tuh mobil warna biru yang ada tulisannya A-L pasti tu AL!” jawab saya ogah-ogahan. Mungkin karena si mas nyadar, gw mulai ogah-ogahan. Si mas akhirnya buru-buru mengakhiri percakapan tersebut.

Sungguh nista.

Kebetulan juga report pengiriman pulsa juga sudah nyampe dan pengiriman pulsa sukses!

Saya jadi tertarik untuk membahas backpacker nih! Secara bahasa (menurut gw, maap ya kalo salah! ^^), backpacker adalah orang yang selalu membawa backpack (tas punggung ukuran gede untuk menyimpan barang-barang yang dibutuhkan selama perjalanan. Informasi mengenai ukuran tas backpack ini rata-rata di atas 50 liter, bahkan sampai 120 liter. Seberapa sih besar ransel 120 liter itu? Dalam kondisi terisi penuh kira-kira tingginya hampir 120 cm atau kalau mau diukur takaranya sama dengan 120 liter air.

Perjalanan yang ditempuh juga bukan dalam kota loh… tapi jurusan antar kota dalam propinsi maupun antar kota luar propinsi—heyya, semacam bus gitu lah :D. Dengan pembiayaan/pendanaan seminimal mungkin. Gak ada ceritanya dong, masa backpacker nginep di hotel, makan di restoran, dan mandi di bathtub yang nyaman—adanya malah mereka tidurnya bisa jadi ngemper (tinggal menggelar sleeping bag-nya), makin ga mandi, makin menunjukkan kepribadian mereka sebagai seorang backpacker sejati.

Apa sih tujuan mereka backpacker?

Ya namanya juga udah hobi. Selain untuk memuaskan keinginan, juga menyalurkan bakat minat sekalian refreshing. Sebenarnya ini sih bagi yang tertarik ma aktifitas backpacker, tapi secara obyektif dengan ber-backpacker-ria setidaknya akan mendapatkan banyak pengalaman baru, antara lain :

  1. Jadi tahu adat, budaya (untuk wisata kuliner cocok juga nihh..), gaya hidup dan kearifan masyarakat di berbagai daerah baru yang dikunjungi.
  2. Bisa mengagumi keindahan alam (ini untuk yang backpacking ke pegunungan, hutan belantara, pantai dll).
  3. Bisa mendapatkan obyek foto yang bagus ^^, jadi sebenarnya backpacker adalah salah satu upaya bagi para fotografer untuk mendapatkan foto-foto nan indah.
  4. Bisa mengasah rasa sosial kita sekalian latihan bagi kita untuk belajar hidup mandiri!

backpacking ni cocok untuk sapa sih?

  1. Orang yang mau menjelajah daerah baru dengan modal sedikit dan menyukai tantangan pastinya!
  2. Orang yang nggak suka ribet alias orang yang cukup simpel. Untuk beberapa hal, apalagi dalam urusan tidur, para backpacker lebih memilih untuk tidur di tempat yang ‘asalkan bisa merem’, dan nggak harus repot dengan tempat tidur yang nyaman.

Nah, bagi pembaca sekalian yang merasa cocok dengan kriteria diatas, boleh tuh mencoba aktifitas backpacker, bisa jadi bakat dan minat pembaca yang sebelumnya terpendam bisa tersalurkan dengan backpacking.

Gak enaknya jadi backpacker apa dong?

Setiap aktifitas tu ada enak dan nggak enaknya. Untuk backpacking ini nggak enaknya :

  1. Susah untuk menjaga kebersihan diri sendiri, namanya juga aktifitasnya menjelajah. Pasti badan jadi keringetan dan bahasa jawanya ‘gobyosh’–mana biasanya jarang mandi ^^–mmhh, bau banget kali ya…
  2. Dengan membawa tas yang gede seperti itu, paling nggak akan mempengaruhi fisik kita…bisa jadi badan lebih bungkuk. Secara medis, ada batas maksimal bagi pundak kita untuk dapat menampung beban seberapa.

Tips-Tips Jadi backpacker

Berdasarkan websitenya para backpacker indonesia (indobackpacker.com), ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum ber-backpacker, antara lain :

  1. Cari informasi sebanyak mungkin mengenai lokasi yang akan dikunjungi, bisa jadi mengenai toko yang menjual alat-alat camping seperti cerita di atas. Ini wajib dilakukan, ya setidaknya sebelum benar-benar menjelajah wilayah baru, sudah ada gambaran umum.
  2. Persiapkan barang-barang yang akan dibawa. Disesuaikan dengan waktu dan lokasi untuk backpacking. Peralatan yang umumnya di bawa : Backpack,Coverbag atau Bullsack, Daypack, Tenda, Sleeping bag, Alat masak, pakaian secukupnya, alat sholat, sepatu, sandal dan alat-alat kebutuhan pribadi lainnya.
  3. Persiapan mental juga perlu. Kesiapan untuk hidup mandiri di wilayah orang. Adat dan budaya di wilayah sana juga harus dijunjung tinggi.
About Travelling

Jalan-jalan di Kuta dan Discovery Mall

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Rasanya lega dan kantuk saya hilang sehabis sholat Ashar di sebuah masjid yang berada di sebuah gang kecil yang (lagi-lagi) terkesan tertutup itu. Sebenarnya saya masih pingin berada di Joger. Kenapa? Saya pingin jalan2 sama dia (my wannabe) ! Huh, kesel juga karena tahunya di Joger tu rame banget—masih untung saat itu saya nggak terjebak dan tersesat di lautan orang yang menurut saya bener2 nggak bersahabat sekali! Main dorong sana, dorong sini… bener2 nggak gerah deh di Joger dengan suasana menggila seperti itu ditambah lagi sebenarnya saya masih ngantuk!

Well, bertemukah saya dengan my wannabe? Ketemu sih, tapi hanya sekelebatan saja… dasar anak bego! Sebel! Wholly shit… You didn’t realize that I looked for you, didn’t you see me here?!

Agnes dan Esti buru-buru mengajak saya keluar, akhirnya saya menurut sajalah… karena lebih baik keluar daripada saya harus terdorong sana-sini di tengah lautan orang!

Fiuh, lega rasanya bisa keluar dari Joger. My wannabe? Hh, fucking care with him! Tapi, kami bener2 nggak tahu harus kemana setelah berhasil keluar dari Joger

Alhamdulillah, kami bertiga menemukan guide baru : Ketum dan Ebi. Hahaha. Bolehlah . Disusul beberapa menit kemudian oleh Atik dan Dini serta rombongan Bu Rini, Bu Reni dan Pak CS—lalu kami menyusuri jalanan untuk mencari secercah kedamaian dalam masjid

Berkat bimbingan tour guide dadakan (si ebi dan ketum), rombongan kami berhasil sampai di Kuta dengan selamat—meskipun sebenarnya kaki saya sudah puegeel dan capek banget karena sudah berjalan jauh banget, dari Joger ke Kuta. Sempat juga sih, kagus saat melihat ruko di kawasan Kuta yang woe… so modern! Keren! Berasa ada di negara lain!

Setelah sampai di Kuta, Esti berpisah dengan rombongan kami—karena Esti dah ditungguin kakaknya di Hard Rock Café. Saya dan Agnees memutuskan untuk tetap bersama ebi dan ketum karena belum ada rombongan temen2 lain di Kuta. Terserahlah, mau diajak jalan-jalan kemana. Kami sudah pasrah di tengah panas teriknya Kuta Bali saat itu. Nggak ingat lagi deh ama my wannabe—abisnya saya bener2 ilfil (apa hopeless ya? )

Eng ing eng… ternyata kita diajak ke Discovery Mall—maaf ralat! Sebenarnya bukannya diajak sih, tapi hanya ngikut rombongan Ebi dan Ketum—habisnya nggak ada pilihan lain! Rombongan temen2 yang lain juga masih kagak keliatan batang idungnya (mungkin sebagian masih berkerumul di Joger). Setelah berpikir beberapa kali, daripada saya dan Agnes terdiam diri dan kayak orang linglung di Kuta Bali… kita memutuskan untuk ngikut rombongan Ebi dan Ketum—barangkali diajak ke tempat yang menarik. Ternyata kata Ketum, tempat PSG nya Ebi ya di Discovery Mall itu. Aneh juga ya PSG kok di Mall, btw jadi apa ya?

Dan ternyata harapan saya benar! Ke Discovery Mall! Menurut saya sih, tempat itu tempat yang menarik. Karena saya baru tahu tuh Mall berdiri dengan megahnya dan mewahnya di tepi pantai yang eksotis trus timing suasananya saat itu pas banget (hampir sunset). Subhanallah… bener-bener enak banget berada di situ… anginnya semilir. Kalo saya jadi bule. Saya mungkin juga bakal milih tiduran di teras Mall yang sudah disediakan gazebo sambil menyeruput lemon tea… euih… enak banget tuh…

Andaikan saya bawa kamera saat itu, mungkin lagak saya sudah seperti wartawan selebriti yang nggak mau kehilangan berita—sok foto-foto scene yang bagus di berbagai tempat! Sayangnya saya nggak bawa (dan belum punya sih!) kamera—tapi, menikmati keindahan sore itu dengan indera penglihatan saya sudah cukup bagi saya. Apalagi dengan menuliskannya seperti ini, buat saya inilah memang saya inginkan! Ah, mulai nggak nyambung deh…

Pada wisata kunjungan Bali saya (pas SMP), Discovery Mall masih belum berdiri… mungkin masih rancangannya yang dibuat. 3 tahun berlalu, dan sekarang Discovery Mall telah hadir. Biasalah… tau juga kan kalau Mall itu memang dikhususkan untuk memanjakan para bule yang sedang bersantai sore di Kuta. Seperti standar Mall biasanya, ada banyak stan disana. Nggak sembarang stan loh yang ada disana, stannya kebanyakan international branded gitulah—mm,, jadi ya standar harganya juga cocok untuk kantong para bule—kalo untuk kantong saya mah… banyak kurangnya ntar!

hmm...

Sayangnya, pantai di depan Discovery Mall masih dalam tahap pengembangan, jadi ya… masih ada truk-truk pengangkut batu gitu sih. Kalau menurut saya itu agak mengganggu pemandangan sih—tapi itulah proses… mungkin juga sebentar lagi akan berakhir.

Inilah hasil foto Pantai Kuta yang… kerenlah…

pantai kuta...

About Travelling, Overload Thinking

Patung Garuda Wisnu Kencana vs Pak Yusuf

Lagi lagi saya ke GWK. Tapi tenang saja, saya tidak lagi-lagi mendapatkan hal yang sama di GWK. Ada banyak perubahan yang saya rasakan setelah 3 tahun mengunjungi GWK lagi. Dulunya GWK itu terlihat sepi pengunjung, masih asri gitu tapi juga masih lumayan menyeramkan, karena batu-batunya tinggi. Berasa di gua apaan gitu.

Tapi sekarang, GWK beda banget! Sudah ramai…banget! Secara keseluruhan bangunan sih, nggak beda jauh dengan yang dulu.

Peraturannya juga masih sama, yakni buat cewek yang lagi datang bulan nggak boleh masuk ke Pura nya itu yang ada di puncak GWK deketnya patung yang mirip ama Pak Yusuf—guru olahraga di MTsN dulu….(nama patungnya itu apa ya? Kebangetan banget ya sampe nggak tahu!). Pura itu memang dijaga kesuciannya—seperti masjid—dimana sebenarnya cewek yang lagi datang bulan juga nggak boleh memasuki area peribadatan, dengan alasan yang nggak jauh berbeda sih, kalo di masjid kan ditakutkan kalau si cewek ke’bocor’an trus mengotori lantai masjid—bisa jadi najis tuh masjidnya, padahal masjid kan seharusnya terjaga kesuciannya setiap waktu. Intinya, yang namanya beribadah—dalam agama apapun, kesucian dari segala elemen yang terlibat dalam proses peribadatan itu harus suci dalam arti, siap untuk menghadap yang Maha Esa dan nggak boleh asal-asalan—harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Patungnya masih sama seperti yang dulu alias masih terpisah antara burung Garuda nya dengan patung orangnya. Diperkirakan di tahun 2012 akan selesai pembuatan patung Garuda Wishnu Kencana secara keseluruhan. Nggak tanggung-tanggung tuh, 2 patung itu dikerjakan di Bandung oleh arsitek asli Bali. Tapi, kenapa harus dikerjakan di Bandung ya? Padahal di Bali juga banyak pemahat batu gitu…? Mmm, mungkin di Bandung lebih mudah akses untuk material yang dibutuhkan…

Menuju puncak GWK yang tinggi banget dibutuhkan kekuatan untuk mendaki sekitar 100 lebih anak tangga… capek juga sih… sampe puncak GWK tuh ngos-ngosan.

Lagi-lagi karena keindahan, saya sedikit melupakan rasa capeknya naik anak tangga yang banyak itu. Dari puncak GWK bisa dilihat panorama sekitar GWK yang bagus banget, ditambah lagi dengan adanya tanaman bunga flamboyan merah yang ditanam menggantung gitu deh. Kerenlah pokoknya. Standing applause for GWK!

Turun ke bawah dari puncak GWK, saya menemukan patung Garuda. Besar juga patungnya—hampir sama besarnya dengan patung orang. Saya jadi penasaran bagaimana cara menggabungkannya? Gimana juga ntar bentuk jadinya ?.

Di GWK tuh susananya seperti jaman dulu tetapi terkesan manis dan tetap modern. Masih ada bukit-bukit marmer (atau kapur ya?) yang tinggi banget dan dibawahnya dibikin ukir-ukiran cerita seperti di Borobudur gitulah. Malah sebelum GWK menjadi tempat wisata, GWK itu hanyalah kumpulan bukit-bukit doang. Hebat banget kan si pembuat GWK! Seakan bisa menyulap tempat yang sebelumnya merupakan hamparan bukit-bukit marmer—menjadi sebuah tempat wisata yang indah dan menarik perhatian warga seluruh dunia. Salut gw cing!

About Travelling

Cing…Kucing…Dimanakah Kamu?

Rombongan sampai di wilayah Sanur terlalu pagi, jadi di pagi yang cerah pada tanggal 27 Mei 2008 itulah rombongan kami menjadi turis domestik pertama yang menikmati keindahan pantai sanur (karena kepagian, sih^^)! Horaay…

Sekitar jam 4 WITA, Pantai Sanur masih gelap gulita bahkan bintang-bintang pun tak bersinar, seakan diam membisu … (blah blah blah apa-apaan nih bahasanya…) intinya, saat itu pantai Sanur masih gelap. Matahari yang ditunggu-tunggu juga belum nongol batang idungnya.

Untuk menghangatkan tubuh, yang pagi itu sangat kedinginan karena anginnya kencang banget—saya dan Agnes memutuskan untuk memilih banyak bergerak—daripada hanya duduk2 di gazebo yang disediakan!

Eh, ngomong2 tentang gazebo, saya baru ingat bahwa di gazebo itu ada seekor kucing kecil loh…awalnya saya merasa nggak ada yang aneh dengan kucing itu. Tapi setelah dipikir2, sejak menginjakkan kaki di Bali, saya baru pertama kalinya melihat kucing—ya di gazebo itu. Sepertinya di Bali memang jarang bakal ditemukan kucing. Ingat hukum alam tentang rantai makanan kan? Yah, sebego-begonya saya di pelajaran Biologi, paling nggak masih nyantol dikitlah materi tentang rantai makanan gitu…

Setahu saya, anjing dianggap sebagai hewan yang suci dan merupakan utusan dewa untuk menjaga manusia—sehingga keberadaan anjing di Bali harus dijaga dan dilestarikan (makanya jarang ditemukan makanan berbahan dasar daging anjing di Bali—padahal daging babi ada—banyak malah!). Karena itu ada banyak anjing berkeliaran dengan bebas di Bali—ngeri juga sih ngelihatnya! Bahkan setiap ketemu anjing (paling tidak) saya shock lalu mengelus2 dada, paling parah saya berteriak (seperti yang tidak sengaja saat di Tanjung Benoa—saya berteriak keras sekali, sampai membuat beberapa turis kaget—saat melihat anjing di depan saya, padahal anjing itu sedang tertidur nyenyak! Parah banget ya tingkat kagetnya!^^).

Saking banyaknya anjing di Bali, makin jarang ditemukan kucing berkeliaran bebas—kemungkinan besar, sudah banyak kelurga kucing yang habis dimangsa oleh para musuh bebuyutan mereka—yakni keluarga anjing. Lalu bagaimana dengan populasi keluarga tikus? Bukankah akan semakin banyak juga karena tidak ada keluarga kucing yang akan menyantap mereka? Eit, yang hobinya makan tikus kan nggak hanya dari keluarga kucing—tapi juga dari keluarga ular! Ular? Mmm,, berarti keluarga Ular juga hidup makmur di Bali, terutama Ular sawah—karena di Bali juga banyak sawah. Wah, wah, wah… suatu keseimbangan memang mutlak diperlukan. Percaya nggak percaya, ketidakseimbangan menyebabkan bencana! Buktinya? Udah banyak kali, salah satu contohnya adalah banjir—karena terdapat ketidakseimbangan antara jumlah hutan (sebagai resapan air) dengan jumlah air hujan. Makanya, jaga keseimbangan alam!

About Travelling

Sunrise at Sanur Beach

No other words which can describe the beatifulness of sunrise at Sanur Beach. What a wonderful.

Well, Sanur Beach was the first place that I visited in Bali at that time. Actually I prefer Sanur Beach to Kuta Beach, because I like the atmosphere in Sanur Beach that was different with Kuta. Kuta seemed too glamour so that less its modestly.

Sanur Beach more wonderful in its modestly. But Sanur was not.

The good scenery of Sunrise made me remembered that the new spirit should always coloured my day as the colour of Sunrise. So that my life will be so wonderfull and enjoyable not my life in bored and sadness.